Bang! Bang! Bang!
Ratusan pukulan dan tendangan menghiasi tempat latihan, setelah beberapa jam penuh pergerakan dan serangan, keduanya berkeringat deras sambil memegangi lutut mereka dengan wajah kelelahan.
Mendongak ke atas, Ives membasuh keringatnya dan siap untuk menyerang sekali lagi. Tapi saat dia ingin mengangkat tinjunya, suara pak tua itu terdengar, "Cukup."
"Apakah sudah selesai? Akhirnya!" Biscuit yang sudah sangat lelah jatuh ke pantatnya, napasnya berat dan keringatnya terus bercucuran.
"Jangan terlalu bersemangat, kita masih belum selesai. Ikuti aku, aku ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian." Tanpa menunggu jawaban mereka, dia berjalan menuju ke arah hutan.
"Biscuit, apakah kamu masih bisa melanjutkan?" Ives mengulurkan tangannya.
"Ya, ayo segera ikuti Ketua mesum itu." Biscuit mengangguk.
Dojo ini memang dekat dengan hutan, tapi mereka belum pernah mencoba masuk ke dalam hutan itu. Selama beberapa hari belakangan mereka memang hanya fokus berlatih bersama Netero, yang di katakan berlatih sebenarnya hanya latihan tanding setiap hari.
Setelah dua puluh menit berjalan kaki, muncul sebuah padang rumput luas di depan. Netero terus menyingkirkan semak-semak yang menghalangi jalan untuk membuka jalan menuju padang rumput itu.
"Eh, apakah kita akan melanjutkan latihan tanding kita di sini?" Biscuit bertanya. Dia tidak menolak, tempat baru memang bisa memulihkan semangat.
"Tidak, mulai hari ini kalian akan menerima latihan baru." Netero menggeleng. Menunjuk ke depan, terdapat sebuah batu yang telah dibentuk menjadi sebuah kubik.
Batu itu hitam pekat dan mulus, dari potongannya bisa dilihat bahwa bentuk itu bukanlah bentuk natural. Potongan halus itu nampak seperti hasil dari pemotongan laser.
"Sebuah batu? Latihan seperti apa." Tanya Ives.
"Kalian pasti akan mengetahuinya, ayo mendekat." Netero tidak langsung menjawab. Sesampainya di depan batu itu, Netero mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh batu berbentuk kubik itu. Mengambil napas ringan, dia mendorongnya ke depan dengan santai.
Setelah mencapai jarak sepuluh meter, dia berhenti dan kembali menuju kedua muridnya. "Itulah latihan baru kalian. Dorong sampai garis finish, itu saja. Ngomong-ngomong, garis finish-nya adalah seratus meter, seharusnya tidak terlalu berat."
"Latihan mendorong beban?" Biscuit penasaran. Meskipun pak tua mesum ini menunjukkan bahwa batu nampak bisa didorong dengan mudah, tapi dia tahu bahwa sebenarnya batu itu berat.
Tinggi dan lebarnya sekitar tiga meter, beratnya masih tidak diketahui.
"Apakah tempat dimana kamu mendorong batu itu merupakan garis sta- Wo, wow?!" Sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba batu itu bergerak kembali ke posisi semula secara otomatis!
"Apa?! Bagimana bisa?!" Bahkan Biscuit ikut terkejut.
"Hohoho, menarik, bukan? Batu itu spesial. Oke, aku akan berteduh di bawah pohon, kalian bisa langsung memulai latihan kalian." Netero terkekeh. Senang rasanya melihat anak-anak muda terkejut dengan karyanya.
Ditinggalkan oleh guru mereka, Biscuit dan Ives saling pandang. "Jadi, apakah kamu mau duluan?" Tanya Biscuit.
"Oke?" Ives menatap batu megah itu sambil menelan ludahnya. Meletakkan kedua tangannya di batu itu, dia mengambil ancang-ancang. Dia tahu kekuatannya, jika dia mencoba mendorong batu itu dengan satu tangan seperti yang dilakukan Netero, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri jika gagal.
"Baiklah... Hnn!!!" Mengambil napas dalam-dalam, dia langsung mendorong batu itu dengan seluruh kekuatannya.
Suara deritan keras terdengar, dan batu itu mulai terdorong! Tapi setelah menempuh jarak lima jengkal, staminanya telah terpotong habis!
"Ahhh... Batu ini benar-benar berat!" Berpegangan pada batu itu, dia terengah-engah.
"Benarkah? Biarkan aku mencobanya." Biscuit penasaran dan ingin segera mencoba.
Setelah menyaksikan batu itu kembali ke posisi awal secara ajaib, Biscuit maju dan mencoba mendorongnya.
Setelah lima menit mencoba, dia hanya mampu mendorongnya sampai jarak empat jengkal!
"Ya tuhan... Ini benar-benar mustahil!" Biscuit memeluk batu besar itu sambil mengeluh.
Dua jam berlalu dengan cepat. Selama dua jam itu Netero mengawasi mereka sambil menikmati waktunya dengan memakan beberapa buah-buahan.
Dirasa sudah cukup, dia memberitahu mereka untuk beristirahat.
Kekuatan mereka masih tidak cukup, dia tahu ini dengan jelas, tapi dia tetap memberikan pelatihan ini kepada mereka bukan tanpa alasan.
Access 40 extra chapters here: patréon.com/mizuki77
