Setelah lari pagi, sisa latihan pada dasarnya sama, dan rutinitas ini berlangsung setiap hari.
Dua minggu berlalu dengan cepat, dan kebetulan hari ini Netero menerima sebuah panggilan penting yang mengharuskannya pergi selama beberapa hari. Hasilnya jelas, keduanya dibebaskan dari latihan untuk sementara waktu ini.
"Uh, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Biscuit.
"Untuk hari ini saja, mari lakukan latihan pagi seperti biasa, setelahnya kita bisa beristirahat." Ives menyarankan.
"Oke, tidak seperti ada hal menarik lain yang bisa kita lakukan." Biscuit menyetujui sarannya.
Beberapa jam berlalu dan sekarang sudah siang. Rencananya sih hanya akan ada latihan pagi hari ini, tapi tiba-tiba Biscuit ingin mengetes hasil latihannya.
Sejujurnya latihan pagi mereka tidak terlalu berat, atau bisa dikatakan latihan fisik mereka tidak menantang sama sekali, kecuali mendorong batu dan sparing tentunya. Mendorong batu adalah apa yang ingin mereka lakukan siang ini.
Sudah beberapa minggu semenjak mereka berlatih, dan terakhir kali mereka mencoba, mereka hanya bisa mendorong sampai jarak beberapa jengkal saja. Kali ini mereka ingin mengetes kekuatan mereka lagi.
"Oke, siapa yang ingin mendorongnya pertama?"
"Biarkan aku mencobanya." Biscuit mengusulkan diri dan maju ke depan.
"Tentu." Ives mengiyakan, tapi, sebelum gadis itu sempat mendorong batu itu, tiba-tiba dia melihat sesuatu yang menarik, "Tunggu sebentar, Biscuit."
"Ada apa?"
"Apakah kamu tidak melihatnya?"
"Melihat apa?" Biscuit merasa kebingungan.
"Ini. Bukankah ini ukiran? Bisakah kamu membacanya?" Dia menunjuk ke arah ukiran aneh yang ada di batu itu. Ukiran itu sepanjang satu paragraf sedang, dan ukurannya juga menyesuaikan besar batu itu. Yang membuatnya heran adalah, mengapa mereka tidak melihat ukiran ini saat pertama kali ke sini?
"Wah, benar juga. Sebentar biar aku lihat." Biscuit menyipitkan matanya sembari mencoba membaca apa yang telah tertulis di batu itu, tapi setelah beberapa saat dia menyerah. "Aku sama sekali tidak bisa membacanya. Ini seperti tulisan acak." Biscuit menggeleng. "Mungkinkah hal ini ditulis dalam bahasa asing?"
Tidak mendapat jawaban dari kekasihnya, Biscuit menoleh ke Ives untuk mencari tahu apa yang sedang dia lakukan. Dia melihat pria itu hanya berdiri diam... Mendekat, dia menggoyangkan bahunya, "Ives, apakah kamu baik-baik saja?"
"Huh? Ya, maaf."
"Tidak apa-apa. Jadi, apa yang membuatmu melamun? Jangan bilang kamu meditasi lagi? Tapi meditasi berdiri?" Dia memang sering melihat pria ini meditasi, tapi tidak berdiri. Lagi pula, siapa sih meditasi sambil berdiri?
"Haha, tidak, tidak, aku hanya terlena akan tulisan itu. Bahasanya asing, tapi entah mengapa aku bisa membacanya." Terkekeh, dia maju ke depan dan menunjuk tepat di bawah huruf, lalu jarinya menggeser sambil dia membacakan apa yang tertulis: [Ketika batu berhenti selama beberapa detik tanpa ada tanda-tanda bergerak, maka batu kembali ke koordinat awal.]
"Sederhananya seperti itu, tapi sebenarnya bahasanya dirancang agak rumit." Dalam hati dia merasa bahwa bahasa ini seperti bahasa pemrograman, dan apa yang tertulis memang telah mereka saksikan beberapa kali. Mungkinkah ini salah satu kemampuan Nen Netero?
"Apakah itu yang tertulis? Aneh, apakah tulisan ini yang memberi perintah kepada batu untuk kembali ke posisi semula?" Biscuit memegangi dagunya sambil terus memandangi tulisan itu.
"Dan ini dibentuk sedemikian rupa layaknya Sigil." Ives berkomentar.
"Ya, polanya benar-benar indah. Mungkin inilah salah satu kemampuan pak tua itu. Dia telah menunjukkan beberapa hal ajaib kepada kita, aku tidak akan heran jika dia bisa melakukan hal seperti ini."
"Dan ngomong-ngomong, kapan ya kita bisa mempelajarinya? Aku sudah tidak sabar untuk mempelajari kemampuan ajaib itu!" Membicarakan tentang kemampuan ajaib, Biscuit jelas terpesona dan sudah tidak sabar untuk mempelajarinya.
Netero pernah berkata bahwa tak lama lagi mereka bisa masuk ke tahap selanjutnya, dan dia menduga bahwa tahap lanjutan itu berhubungan erat dengan kemampuan ajaib yang telah ditunjukkan oleh pak tua itu.
"Aku juga, aku yakin tidak akan lama lagi." Terlepas dari sifat Netero yang suka main-main, dia jelas serius dalam pelatihan yang dia berikan, walaupun pelatihan itu agak tidak ortodoks. Dan membicarakan tentan Shingen-ryu style, pak tua itu sama sekali belum mengajari mereka satu gerakanpun!
Mungkinkah dia menunggu sampai kekuatan fisik mereka mencukupi? Mungkin... Pokoknya tidak ada gunanya memikirkannya sekarang, ketika pak tua itu ingin mengajarkannya, maka dia akan mengajarkannya.
"Oke, lupakan tulisan itu untuk sekarang. Sekarang mari coba dorong ini." Biscuit sudah tidak sabar untuk menguji perkembangannya.
"Aku akan memberikan aba-aba."
"Oke." Biscuit memberikan ancungan jempol.
"Satu, dua, tiga!"
Dengan segenap kekuatannya, Biscuit mendorong batu itu, dan...
Access 40 extra chapters here: patréon.com/mizuki77
