"Hmm, jadi, sebenarnya yang mencuri bukan kamu?" Biscuit menanyai gadis itu sambil mengerutkan keningnya.
"Unn." Gadis itu mengangguk beberapa kali lalu menunduk malu.
"Lantas mengapa kamu mau dituduh oleh mereka?" Ives bertanya.
"Karena a-aku tidak berani." Gadis itu sekali lagi menggeleng, kali ini ditemani oleh ekspresi ketakutan.
"Katakan padaku siapa pelaku yang sebenarnya, aku akan mengajari mereka apa itu sopan santun." Biscuit melakukan fist bump.
"..." Honora semakin menggelengkan kepalanya.
"Well, well, kita dapat mengurus mereka besok. Ngomong-ngomong, Biscuit, perlukah kita kembali? Sudah agak malam."
"Bagaimana dengan tiket yang sudah kita beli? Akan mubazir jika kita membuangnya begitu saja." Biscuit menjawab.
"Setelah pertunjukkan Honora, rasanya keinginanku untuk melihat pertunjukan sudah terpuaskan." Dia mengatakan yang sebenarnya, walaupun memang agak sayang jika tiket yang sudah dibeli dibuang.
"Tunggu, kalian sedang membicarakan tentang tiket apa?" Honora tiba-tiba bertanya.
"Oh, ini tentang tiket pertunjukan sirkus." Biscuit mengeluarkan dua tiket miliknya dan Ives dan menunjukkannya kepada gadis itu.
"Tiket Zirkus Zirkus?! Kalian juga ingin melihat pertunjukan itu?" Honora terkejut, tapi kemudian dia menjadi malu-malu lagi.
"Oh? Apakah kamu berencana untuk menontonnya juga?"
"Y-ya?" Angguknya dengan agak ragu-ragu. Dia memang telah membeli tiket, bisa dibilang dia adalah penggemar berat dan punya keinginan untuk bergabung dengan Zirkus Zirkus. Tapi itu hanyalah angan-angan belaka.
Karena begitu tertarik dengan sirkus, dia mempelajari sendiri beberapa trik yang dia dapat dari beberapa buku koleksinya.
"Kalau begitu mengapa tidak menonton bersama?"
"Benar juga. Honora, ayo ikut kita." Biscuit mengangguk setuju.
"Kalau begitu sudah diputuskan." Naik ke atas motor, Ives siap melaju menuju tempat pertunjukan.
'Aku bahkan belum setuju...' Honora dalam hati ingin menangis. Tanpa sepertujuannya, dia ditarik ke atas motor oleh gadis bernama Biscuit!
Tapi, entah mengapa dia merasa senang. Sejak kecil dia telah hidup sendiri, dan orang yang bisa dia anggap teman bisa dibilang tidak ada. Walaupun kedatangan mereka dalam hidupnya agak 'dipaksakan', sejujurnya dia tidak keberatan.
Pertunjukkan malam berlalu dengan meriah, dan pertemanan ketiganya bisa dibilang tumbuh dengan cepat. Setelah mengantar Honora pulang, Ives dan Biscuit kembali untuk beristirahat.
Seminggu kemudian, pelabuhan.
"Aku harap bisa bertemu denganmu lagi, Honora." Mengantongi tangannya di celana, Ives menatap gadis itu sambil tersenyum tipis.
"Walaupun kita belum mengenal lama, tapi aku sudah menganggapmu teman." Biscuit menepuk bahu gadis muda itu.
"Ives, Biscuit! Sampai jumpa lagi, aku akan merindukan kalian!" Melihat kepergian mereka, Honora nampak enggan, tapi, ini adalah pilihan yang telah dia buat.
Masih ada mimpi yang belum dia wujudkan, dan dia tidak ingin melepaskan mimpi ini dengan mudah, walaupun setiap malam dia selalu kepikiran apakah dia harus menerima ajakan mereka atau tidak.
"Aku akan mengirimmu pesan, pastikan untuk membacanya." Ives melembai tanpa membalikkan badannya.
"Aku pasti akan membacanya!" Honora menyaut sambil membalas lambaiannya.
Setelah kapal itu menghilang di kejauhan, Honora berbalik dan pergi dengan langkah mantap. Matanya memancarkan keinginan, dan dalam hati dia bersumpah bahwa dia akan mewujudkan keinginannya sebelum bertemu kembali dengan mereka!
Di atas kapal laut, Ives berdiri di haluan kapal sambil memandang ke lautan yang indah. "Sungguh sangat disayangkan." Katanya.
"Jika kamu benar-benar ingin, mengapa tidak memaksanya saja?" Biscuit berkomentar.
"Haha, tidak perlu, lagi pula, apakah kamu tidak cemburu jika aku mengajaknya?" Ives terkekeh.
"Cemburu? Mengapa aku harus cemburu? Aku sudah menganggapnya sebagai saudariku." Biscuit mendengus.
"Yah, dia punya mimpi dan ambisinya sendiri, dan aku ingin melihatnya sukses. Bukankah itu yang telah kita lakukan saat memutuskan untuk menambah liburan kita selama satu minggu di sana?" Mengingat satu minggu tambahan yang dia habiskan, dia memang telah membantu gadis itu mengambil langkah pertama dalam menggapai mimpinya.
Siapa sangka Hunter License bisa memuluskan banyak hal. Dengan satu patah kata dia langsung dipertemukan dengan pemilik Zirkus Zirkus. Dalam diskusinya, dia berhasil meyakinkan bos Zirkus Zirkus itu untuk menerima Honora masuk.
Sebenarnya siapa sih Honora sampai-sampai membuatnya mau membantunya seperti ini? Walaupun masih ada sedikit keraguan di dalam hatinya, tapi dia sangat yakin bahwa dia adalah ibu Hisoka. Anda tahu apa artinya ini? Ahem, dia tidak akan melepaskannya begitu saja.
Mungkin sekarang dia berpisah, tapi cepat atau lambat dia akan bertemu dengannya lagi. Apakah di masa depan Hisoka akan lahir atau tidak dia sendiri tidak terlalu perduli.
"Hnn~ Ives, mari masuk. Besok kita akan sampai di pelabuhan yang kita tuju. Mari istirahat sebelum pelatihan kita." Biscuit mengajaknya masuk sambil menahan uap.
"Baiklah." Menggandeng tangan Biscuit, dia memimpin masuk.
Shingen-ryu, Netero, aku datang!
Access 40 extra chapters here: patréon.com/mizuki77
