Cherreads

Chapter 218 - Beginilah Semua Ini Dimulai

Kaivan membacakan kata-kata itu dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan yang bergema di dalam gua sunyi. Di matanya terpancar pemahaman baru tentang betapa rapuhnya dunia yang mereka tinggali.

Levan mengangguk lalu menerjemahkan pesan itu untuk Fabrizio. Anak laki-laki itu mendengarkan dalam diam. Saat kata-kata tersebut sampai kepadanya, ekspresinya perlahan berubah. Cahaya di matanya memudar, bibirnya mengatup erat, dan napasnya menjadi berat. Kedua tangannya mengepal di atas celana yang telah usang, jari-jarinya bergetar saat berusaha menahan gejolak emosinya. Ia tidak mengatakan apa pun. Hanya satu helaan napas panjang yang keluar, seolah itu adalah usaha terakhirnya untuk tetap berdiri tegak. Pandangannya jatuh ke lantai, kosong namun begitu dalam, seakan sedang mencari jawaban di dalam perut bumi itu sendiri.

Kaivan mengamatinya dengan saksama. Ia mengenal perasaan itu. Beban memikul dunia yang tak pernah diminta, rasa sakit karena terjebak dalam takdir yang tidak bisa ditolak. Di matanya tersimpan simpati sekaligus ketidakberdayaan. Tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk menghibur seseorang yang baru saja melihat harapannya hancur.

Levan melangkah mendekat. Tatapannya melunak, seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya. Ia meletakkan tangan di bahu Fabrizio, memberikan sedikit kehangatan di tengah tekanan yang nyaris tak tertahankan itu.

"Masih ada waktu," katanya pelan namun tegas. "Jika kita bisa mengalihkan sumber daya, atau membangun jaringan baru menggunakan prediksi dari Tome Omnicent, mungkin kita bisa memperkuat lapisan luar tembok itu tanpa harus menghancurkannya."

Fabrizio tidak menjawab. Ia hanya menarik napas berat. Namun kepalanya sedikit terangkat. Secercah harapan yang samar perlahan kembali menyala di dalam hatinya.

Kaivan mengangguk. Suaranya lembut, tetapi penuh keteguhan. "Kita akan mencobanya. Selama aku masih di sini, aku akan mencari setiap kemungkinan yang ada."

Levan berbalik lalu mengeluarkan sebuah buku tua dari dalam mantel panjangnya. Sebuah kamus bahasa Georgia yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Ia menyerahkannya kepada Kaivan.

"Kau perlu mempelajari bahasa di sini. Aku tidak akan selalu menjadi penerjemahmu."

Kaivan menerima buku itu, menatap sampulnya dengan wajah lelah, lalu menghela napas pelan. "Baiklah... kalau memang harus begitu."

Musim panas pun tiba.

Bunker yang biasanya dingin kini terasa lebih hangat, dipenuhi dengungan mesin yang tak pernah berhenti dan percikan las yang menyala di sana-sini. Suara-suara itu telah menjadi bagian dari keseharian laboratorium tempat mereka bekerja. Malam itu, Fabrizio masuk ke kamar Kaivan tanpa mengetuk. Wajahnya dipenuhi antusiasme, seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru.

"Kaivan, hari ini tidak ada tes, kan? Aku butuh bantuanmu," katanya dalam bahasa Georgia, bahasa yang kini dapat dipahami Kaivan tanpa kesulitan. Ia bersandar pada kusen pintu sambil mengetukkan ujung kakinya ke lantai dengan tidak sabar.

Kaivan menutup buku catatannya lalu menoleh ke arahnya. "Tentu saja. Aku akan membantumu," jawabnya. Nadanya masih sedikit formal, tetapi terdengar tenang dan bersahabat. Ia tahu bahwa permintaan apa pun dari Fabrizio pasti akan rumit. Namun selalu menarik.

Mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang diterangi lampu neon, menciptakan bayangan memanjang di sepanjang dinding. Langkah kaki mereka bergema di tengah keheningan malam. Saat tiba di laboratorium utama, Fabrizio langsung menuju mejanya yang dipenuhi cetak biru, sketsa, dan berbagai peralatan teknologi canggih.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," katanya sambil membuka gulungan cetak biru besar di atas meja kerja. Sebuah desain robot humanoid memenuhi halaman itu dengan detail yang luar biasa. "Aku ingin membangun ini. Mereka harus terlihat seperti manusia, menggunakan material organik yang menyerupai tubuh kita. Tapi tetap saja... robot."

Ruang bawah tanah itu remang-remang, diterangi lampu kuning yang menggantung dari langit-langit logam berkarat. Uap dari mesin yang terlalu panas membentuk kabut tipis, sementara udara dipenuhi aroma logam terbakar dan pelumas tua. Laboratorium itu berdengung pelan, perpaduan antara kecerdasan dan kegilaan.

Kaivan berdiri diam sambil memperhatikan cetak biru tersebut. Sketsa itu terlihat seperti rancangan seorang dewa. Tubuh mekanis yang tampak hampir hidup. Ia menyipitkan matanya, menghitung kembali logika di balik desain itu. Perlahan, ia meletakkan tangannya di atas Tome Omnicent. Seolah menjawab panggilannya, buku kuno itu terbuka dengan sendirinya. Huruf-huruf bercahaya muncul dan membentuk kalimat-kalimat dalam bahasa modern.

"Menciptakan robot humanoid dengan sensor yang mampu meniru lima indra manusia membutuhkan beberapa komponen utama..."

Suara Kaivan terdengar tenang namun berwibawa, bergema di ruang logam itu seperti sebuah mantra. Fabrizio langsung menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar penuh semangat.

"Tunggu! Aku harus mencatat ini!" serunya.

Ia segera mengambil buku catatan dan mulai menulis dengan cepat. Jari-jarinya menari di atas halaman, menyalin setiap kata yang diucapkan Kaivan dengan antusiasme yang menular. Setelah selesai, Fabrizio mengangkat Tome Omnicraft di hadapannya. Kedua tangannya terulur, mengarahkan aliran energi yang mulai bergetar di udara. Cahaya redup berkumpul di atas meja, memadat menjadi logam berkilau yang tampak seolah bernapas. Perlahan, kerangka tangan robot mulai terbentuk. Ramping, presisi, dan terlihat seakan dipahat langsung oleh dewa mesin.

Kaivan memperhatikannya dengan saksama. Kagum, namun tetap waspada. "Itu luar biasa," katanya pelan. "Tapi setelah bentuknya selesai, kau tetap harus memprogramnya. Dan itu... tidak akan mudah, bahkan dengan Tome Omnicraft."

Nadanya terdengar tenang, namun ada ketegangan yang tersimpan di balik kata-katanya. Seolah ia memahami bahwa ini bukan sekadar penciptaan. Ini adalah pertaruhan antara kehidupan dan kehancuran.

Fabrizio berhenti. Keceriaan di wajahnya memudar, lalu ia mengangguk perlahan. "Aku tahu. Daripada menulis program biasa, aku berpikir... mungkin aku harus merancang AI. Sesuatu yang mampu memiliki kesadaran."

Sebelum kata-kata itu benar-benar meresap ke dalam ruangan, pintu baja di belakang mereka berderit terbuka. Seorang pria muda melangkah masuk. Jas laboratoriumnya yang putih tampak kusut, sementara lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan kelelahan yang mendalam. Thomas.

"Maaf mengganggu," katanya pelan sambil menatap Kaivan dengan kelelahan dan ketulusan. "Kau dibutuhkan di ruang pemeriksaan utama. Mereka ingin melakukan pemindaian otak lagi."

Kaivan menarik napas panjang. Tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya kembali rileks. Ia menutup Tome Omnicent dan meletakkannya perlahan di atas meja.

"Ini sudah pemindaian yang ketiga bulan ini..." gumamnya. Suaranya hampir tenggelam oleh dengungan mesin.

Fabrizio melangkah setengah langkah ke depan. Ia berkedip beberapa kali saat rasa bersalah mulai muncul di matanya. "Aku tahu ini tidak mudah. Tapi mungkin pemindaian ini akan membantu kita memahami Tome Omnicent dengan lebih baik."

Kaivan menatapnya.

Tanpa kemarahan.

Tanpa belas kasihan.

Hanya tatapan kosong seseorang yang telah terlalu sering dijadikan bahan eksperimen.

Ia berbalik lalu berjalan menyusuri koridor bersama Thomas. Lampu-lampu yang berkedip menciptakan bayangan mereka seperti roh-roh yang sedang mengembara. Langkah kaki mereka bergema hampa di sepanjang dinding logam.

 

More Chapters