Cherreads

Chapter 217 - Jika Ini Hancur, Maka Segalanya Akan Hancur

"Ada sesuatu yang perlu kukatakan padamu," ucapnya dengan nada serius. Setiap kata yang keluar menggema pelan, menembus keheningan. "Salah satu rahasia terbesar dunia ini."

Ia melangkah lebih dekat hingga bayangannya menyatu dengan bayangan Kaivan di lantai. Tatapannya menjadi tajam, seperti baja yang baru saja ditarik dari sarungnya.

"Pernahkah kau mendengar tentang Gog dan Magog? Atau Ya'juj dan Ma'juj dalam ajaran Islam? Makhluk-makhluk yang disegel di balik tembok besi. Benar begitu?"

Kaivan menundukkan kepalanya. "Ya. Sebuah tembok yang dibangun oleh Alexander Agung... atau Dzulqarnain, untuk memenjarakan mereka."

Levan membentuk senyum tipis di bibirnya. "Benar. Namun yang hanya diketahui oleh sedikit orang adalah bahwa tembok itu tidak dibangun oleh manusia semata. Pada masa itu, seorang pengguna Tome Omnicraft turut membantu pembangunannya. Dzulqarnain memiliki seorang pendamping terpercaya, pemegang Omnicraft, yang memastikan tembok itu mampu bertahan selama ribuan tahun."

Kaivan menyipitkan matanya. Pikirannya bergerak cepat mencari jawaban. "Jadi... sampai sekarang, tembok itu masih dijaga oleh para pengguna Tome Omnicraft?"

Levan mengangguk perlahan. Kedua tangannya terlipat di belakang punggung, seolah sedang menahan sesuatu yang berat. "Tepat sekali. Dan Fabrizio adalah salah satu penerus tugas itu."

Wajah Fabrizio tetap tenang, namun matanya menyimpan kisah-kisah yang belum pernah diceritakan kepada siapa pun.

"Sebagai penjaga, dia memastikan tembok itu tetap utuh. Karena jika suatu hari tembok itu runtuh..."

Levan berhenti berbicara, membiarkan keheningan menyampaikan sisanya.

Kaivan menarik napas panjang. Suaranya rendah, namun tegas. "...maka dunia ini akan runtuh bersamanya."

Tiba-tiba, Fabrizio berbicara dalam bahasa Georgia. Suaranya terdengar berat dan keras, setiap suku katanya seperti mantra kuno yang berasal dari masa lampau.

Levan menerjemahkannya dengan suara pelan. "Dia berkata bahwa dia ingin belajar darimu, Kaivan. Fabrizio ingin menggunakan kekuatan Tome Omnicent untuk memperoleh cetak biru yang lebih jelas, agar suatu hari nanti dia bisa terbebas dari tugas menjaga tembok itu, tanpa benar-benar meninggalkannya."

Kaivan menatap Fabrizio. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat ancaman di hadapannya, melainkan seseorang yang juga dipenjara oleh takdir yang tidak pernah ia pilih.

"Jadi itu alasan aku dipanggil ke sini," gumam Kaivan.

Levan mengangguk kecil. "Masih ada alasan lainnya. Kami ingin melatihmu agar lebih memahami Tome Omnicent. Tome ini... berbeda. Tidak ada catatan jelas mengenai asal-usulnya, selain kemunculannya yang misterius di Indonesia pada tahun 1970-an."

Kaivan menatapnya tajam. "Indonesia...? Jadi ada sesuatu di negaraku yang memanggil Tome itu?"

Genggamannya pada tas semakin erat. Ia berbisik, nyaris hanya untuk dirinya sendiri. "Tome Omnicent saat pertama kali berada di tanganku. Sejak aku bertanya padanya, aku telah melihat masa lalu dan masa depan... tetapi tidak pernah secara utuh."

Potongan-potongan penglihatan melintas di benaknya.

Dunia yang dilahap peperangan. Kota-kota runtuh menjadi puing. Makhluk-makhluk raksasa merobek jalan keluar dari perut bumi. Darah manusia mewarnai tanah seperti tinta merah yang tumpah tanpa akhir.

Penglihatan lain menyusul.

Peta dunia berubah bentuk. Lautan berganti warna. Langit perlahan memudar. Matahari menggantung terlalu dekat, seolah hendak membakar segalanya.

Kaivan perlahan membuka matanya. Napasnya terasa berat, seakan ia baru saja kembali dari perang yang bahkan belum terjadi.

Keheningan turun memenuhi ruang bawah tanah itu seperti kabut. Di kejauhan, mesin-mesin tua masih berdetak tanpa henti. Setiap bunyi terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran. Cahaya neon pucat menciptakan bayangan panjang di wajah ketiga orang yang berdiri di sana.

Akhirnya, Levan kembali berbicara. "Karena itulah kami ingin kau tinggal di sini untuk sementara waktu." Suaranya tenang, tetapi tersimpan harapan yang samar di dalamnya. Ia bersandar pada pilar besi dengan kedua tangan terlipat, tatapannya menembus udara dingin.

Kaivan mengangkat pandangannya dan melihat Fabrizio melangkah maju. Gerakannya lambat, namun mantap, seperti seseorang yang telah berdamai dengan takdirnya sendiri. Sebuah senyum tipis muncul di wajah mudanya. Pahit, namun tetap tegar.

Fabrizio mengulurkan tangannya.

Kaivan ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran itu.

Dua dunia bertemu.

Dingin dan hangat.

Keraguan dan harapan.

Kaivan membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku kuno, Tome Omnicent. Sampul kayunya dipenuhi ukiran yang menyerupai akar-akar waktu itu sendiri. Saat buku itu dibuka, huruf-huruf asing mulai muncul di halaman-halaman kosong, bergerak seperti tinta hidup yang sedang menuliskan rahasia dunia.

Kaivan mengajukan pertanyaannya di dalam hati, dan seketika kata-kata mulai terbentuk:

"Apakah tembok yang menyegel Ya'juj dan Ma'juj dapat diperbaiki dan diperkuat kembali?"

Beberapa detik berlalu.

Kemudian jawaban itu muncul perlahan, setiap huruf membawa beban ribuan tahun sejarah:

"Ya. Dengan kekuatan Tome Omnicraft, hal itu memungkinkan. Namun terdapat dua hambatan besar. Pertama, membangun kembali tembok dalam skala sebesar itu membutuhkan sumber daya yang sangat besar. Tome Omnicraft mampu membentuk ulang elemen-elemen yang sudah ada, tetapi tidak dapat menciptakan elemen baru. Ia hanya menggunakan apa yang telah tersedia di dunia ini. Sayangnya, sumber daya alam yang dibutuhkan telah berkurang secara drastis. Kedua, sekalipun seluruh material tersedia, proses pembangunan kembali akan mengharuskan sebagian tembok lama dihancurkan terlebih dahulu. Risiko terbesarnya adalah terbebasnya Ya'juj dan Ma'juj. Jika tembok itu melemah meski hanya sedikit, dunia akan menghadapi kehancuran yang tak terbayangkan."

More Chapters