Pintu geser elektronik terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan steril yang diselimuti cahaya putih pucat. Sinar LED biru kehijauan memantul di layar-layar digital dan kabel-kabel yang menggantung. Di tengah ruangan berdiri sebuah kursi logam yang dikelilingi pemindai saraf berkilau, seperti tengkorak besi yang lapar akan pengetahuan.
Kaivan duduk diam. Tubuhnya terlihat kecil di tengah mesin-mesin dingin itu. Kedua tangannya terletak di pangkuan, sementara tatapannya kosong. Cahaya pemindai memantul di matanya, membuatnya tampak seolah telah menjadi bagian dari mesin itu sendiri.
Levan masuk dengan langkah mantap. Jas laboratorium putihnya tampak rapi tanpa cela, rambut hitamnya disisir ke belakang dengan sempurna. Sebuah papan klip berada di tangannya, seperti bilah pengetahuan yang siap membelah rahasia. Senyumnya tidak hangat. Itu adalah senyum seorang predator intelektual yang kelaparan akan kebenaran.
"Kami masih penasaran dengan otakmu, Kaivan," katanya datar, namun tidak mampu menyembunyikan antusiasme ilmiah yang membara di balik suaranya. Ia meletakkan papan klip itu di samping lalu dengan tenang mendorong Kaivan ke posisi yang tepat di dalam pemindai, seperti menempatkan sebuah bidak catur di atas papan permainan.
Kaivan menarik napas perlahan. Mesin itu mengeluarkan dengungan halus saat cahaya laser hijau menyapu kulitnya, menembus neuron-neuron dan serpihan-serpihan ingatan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.
Ia memejamkan mata. Dalam kegelapan, bayangan masa lalunya bermunculan. Teman-temannya, pertempuran yang berlumuran darah, malam-malam saat ia menangis sendirian. Di bawah cahaya dingin laboratorium ini, semua itu tak lebih dari sekumpulan data mentah.
Sulit untuk mengetahui berapa lama waktu telah berlalu sebelum pemindaian itu akhirnya selesai. Dengan langkah lambat dan sedikit goyah, Kaivan turun dari mesin tersebut. Bahunya bergetar, bukan karena lelah, melainkan karena kehampaan yang diam-diam menggerogoti dirinya dari dalam.
Levan mendekat, papan klip masih tergenggam erat di tangannya. "Kaivan," panggilnya dengan nada seperti seorang guru yang sedang berbicara kepada murid berbakat namun sulit dikendalikan. "Bagaimana rasanya memiliki kapasitas otak yang meningkat lima puluh persen?"
Kaivan menoleh perlahan. Di matanya terlihat kontras yang aneh. Ketenangan manusia bercampur dengan kejernihan dingin milik mesin. "Tidak ada yang terasa berbeda," jawabnya datar. "Aku hanya bisa mengendalikan tubuh dan pikiranku dengan lebih presisi. Misalnya..."
Ia mengambil empat buah pena dari meja logam di dekatnya. Gerakannya cepat dan akurat, seperti mesin yang menjalankan rangkaian perintah sempurna. Satu per satu pena itu dilemparkannya ke arah sudut ruangan yang berbeda. Masing-masing memantul dengan sudut yang tepat lalu mendarat di tempat pensil yang berbeda. Dentingan logam yang lembut bergema di seluruh laboratorium, membuat udara terasa membeku.
Para ilmuwan terdiam.
Seorang wanita dengan rambut terikat menahan napasnya.
Sementara seorang pria tua berkacamata mulai menulis dengan cepat di tablet yang ia pegang.
Levan tersenyum tipis. "Jadi tingkat akurasimu meningkat?"
Kaivan menyilangkan tangan. "Bukan akurasi. Aku hanya menghitung sudut pantulan dan kekuatan yang kuberikan. Semuanya bergerak persis seperti yang kuinginkan."
Keheningan kembali turun.
Hanya dengungan mesin dan suara jari-jari yang mengetuk layar sentuh yang masih terdengar.
Lalu sebuah bisikan pelan memecah kesunyian.
"Otaknya sempurna... Isabel, Raphael, dan Felicia juga menunjukkan peningkatan dua puluh persen... bagaimana dia membagikannya?"
Suara pria tua itu hampir tak terdengar.
Namun Kaivan mendengar setiap katanya.
Tubuhnya menegang.
Gelombang dingin menyebar dari dadanya.
Isabel yang selalu ceria.
Raphael yang dibebani masa lalu yang kelam.
Felicia yang selalu melindunginya tanpa ragu.
Mereka juga telah menjadi subjek eksperimen.
Kengerian perlahan mencengkeram dirinya.
Di balik senyuman dan janji untuk membantu, mereka sedang diubah. Secara fisik maupun mental. Emosi mereka. Ingatan mereka. Mungkin bahkan saat ini, semuanya sedang dibentuk ulang tanpa sepengetahuan mereka.
Kaivan menatap Levan.
Tatapannya kosong.
Namun badai mengamuk di baliknya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan pergi. Langkah kakinya bergema tajam, seolah menandai sesuatu di dalam dirinya yang akhirnya retak.
Saat pintu laboratorium tertutup rapat di belakangnya, suara sistem terdengar menggema. Dingin dan mekanis.
"Data log Subjek Kaivan: stabil. Kapasitas telah mencapai tingkat target. Potensi melebihi batas manusia."
Di luar ruangan, Kaivan berdiri di depan jendela kaca besar, memperhatikan cahaya redup ruang penelitian yang memantul di hadapannya. Tangannya mencengkeram erat pagar besi.
"Biarkan hanya aku..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. "Mereka bukan alat... dan aku tidak akan membiarkan mereka disentuh lagi."
Di dalam pantulan kaca, matanya terlihat kosong.
Namun jauh di kedalamannya, nyala api kecil mulai berkobar.
Api yang siap membakar dunia.
Malam itu, bunker tenggelam dalam kesunyian. Lampu-lampu koridor bergoyang pelan, menciptakan bayangan tajam di atas lantai baja.
Sambil menahan napas, Kaivan bergerak menyusuri lorong. Langkah kakinya tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tubuhnya menempel dekat pada dinding, setiap gerakannya halus dan terukur, seperti hantu yang menolak untuk terlihat. Ia tiba di kamarnya, melirik cepat ke kiri dan kanan, lalu memanjat ke dalam saluran ventilasi di atas langit-langit, menghilang ke dalam kegelapan.
Saluran ventilasi itu sempit dan dingin, dipenuhi debu. Tubuh Kaivan yang ramping memudahkannya menyelinap di antara pipa-pipa logam yang bergetar lembut. Lengan kirinya menopang tubuhnya pada permukaan yang licin, sementara napasnya nyaris tidak terdengar. Hanya detak jantungnya yang bergema di telinganya.
Beberapa menit kemudian, ia tiba tepat di atas ruang arsip. Dari celah ventilasi, cahaya biru redup memancar dari komputer-komputer dan deretan rak yang tersusun rapi. Dengan hati-hati ia melonggarkan baut ventilasi, lalu turun tanpa suara. Kedua kakinya menyentuh lantai logam tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun.
Kaivan mengamati ruangan itu.
Label pada rak paling bawah menarik perhatiannya.
Eksperimen Peningkatan Manusia dengan Acquired Savant Syndrome.
Tangannya bergetar saat menarik map tersebut keluar.
Ia membukanya perlahan.
Napasnya tertahan di tenggorokan.
