Setelah percakapan yang menguras emosi itu berakhir, Isabel meninggalkan ruangan. Langkah kakinya bergema di koridor yang sunyi. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya sedang dilanda kekacauan. Saat berjalan menuju pintu keluar, ia berpapasan dengan Levan yang hendak masuk.
Levan menghentikannya. Sikapnya terlihat santai, namun tatapannya tajam. "Isabel, kita perlu bicara setelah ini," katanya datar, meski ada beban yang tak terucap di balik kata-katanya. Isabel tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sekali lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan Levan berdiri di depan pintu.
Levan membuka pintu dan melangkah masuk. Matanya langsung menangkap sosok Kaivan yang duduk membungkuk dengan kepala tertunduk, wajahnya tampak lelah seolah memikul sesuatu yang melampaui batas manusia. Levan menyilangkan tangan dan berdiri tegap. "Jadi ini benar, Kaivan?" tanyanya serius. "Kau tidak tertarik pada cinta? Kau kehilangan keinginan untuk jatuh cinta? Aku tidak tahu Tome Omnicent bisa memberikan efek seperti itu."
Kaivan perlahan mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Levan dengan mata yang redup. Ia menghela napas pelan. "Tidak. Bahkan sebelum aku memegang Tome Omnicent, aku sudah terlalu sering dikhianati. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi memandang wanita dengan perasaan romantis."
Levan mengusap dagunya, mencerna jawaban itu. "Begitu rupanya. Jadi masalahnya lebih dalam dari yang kukira. Baiklah. Mungkin ini memang tidak berhubungan langsung dengan Tome Omnicent." Ia menepuk bahu Kaivan. "Lupakan dulu untuk saat ini. Kita harus menuju helipad. Hari ini akan panjang. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Bawa Tome Omnicent milikmu."
Kaivan mengangguk kecil lalu berdiri. Ia mengambil Tome Omnicent dari atas meja dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang selalu dibawanya. Bersama Levan, ia berjalan menuju helipad.
Jauh di belahan dunia yang lain, jeritan menggema di dalam sebuah ruangan gelap. Vella, seorang wanita dengan mata penuh penderitaan, berguling di lantai sementara tubuhnya diguncang rasa sakit yang tak tertahankan. "BERHENTI! TOLONG! AKU MOHON! AKU TAKUT!" teriaknya dengan suara serak di sela-sela tangisnya.
Di sisi lain ruangan, seorang anak laki-laki duduk tenang di kursi sambil menyesap teh dari cangkir kecil. Johan, yang baru berusia enam tahun namun memiliki tatapan yang terlalu tajam untuk usianya, menoleh kepada seorang wanita bernama Rapi yang berdiri gemetar di dekat pintu. "Jadi, Kaivan telah diculik?" tanyanya datar.
Rapi mengangguk lemah, hampir tidak mampu berbicara. "Menurut laporan polisi, seorang pria berjas hitam membawanya pergi di dalam sebuah peti kayu."
Johan tersenyum tipis lalu meletakkan cangkirnya di atas meja. "Meskipun aku tidak bisa merasakannya dari sini, cepat atau lambat dia akan muncul," katanya sebelum berdiri.
Ia berjalan santai menuju pintu keluar. Namun sebelum pergi, ia menoleh sekilas ke arah Vella yang masih terbaring di lantai. "Mulai sekarang, aku yang akan mengambil keputusan. Kau hanya membuat masalah dan terlalu terobsesi dengan urusan duniawi," katanya dingin, lalu pergi tanpa menoleh lagi.
Vella yang akhirnya mulai tenang saat rasa sakitnya mereda menatap lantai. Sebuah mata kaca tergeletak dan berguling pelan di sana. Dengan panik ia meraihnya dan memasangnya kembali. "Karena bocah sialan itu... aku menjadi seperti ini," gumamnya penuh kebencian.
Salju turun perlahan dari langit abu-abu yang tak bernyawa. Serpihan-serpihan putih itu menutupi helipad yang membeku, membentuk lapisan salju di atas jejak-jejak kaki yang perlahan memudar. Sebuah helikopter militer hitam yang membawa Kaivan dan Levan mendarat dengan mulus, membelah kesunyian pegunungan terpencil. Putaran baling-balingnya melambat, menyisakan dengungan logam dingin yang mengguncang udara.
Kaivan menundukkan kepalanya ketika angin menerpa dengan ganas, menusuk kulitnya meski tubuh kurusnya sudah dibalut jaket tebal. Ia menggenggam erat tas usang yang tergantung di bahunya. Tas yang menyimpan benda paling berbahaya di dunia, Tome Omnicent. Setiap langkah di atas lapisan es terasa seperti gema terakhir dari keberadaannya sebagai bagian dari Lab tempat ia tumbuh. Setelah hari ini, tak akan ada lagi tawa ceroboh Radit, tak akan ada lagi tatapan tajam Zinnia, dan tak akan ada lagi suara lembut Felicia yang memanggil namanya.
Levan berjalan di depan dengan langkah mantap tanpa keraguan, matanya terus mengawasi sekeliling dengan waspada. Mereka melewati pagar kawat berduri dan berbagai pos pemeriksaan keamanan. Para prajurit bersenjata lengkap berdiri tegak seperti patung, senjata mereka siap diangkat kapan saja. Tatapan mereka dingin, mengukur dan menghakimi.
Kaivan menundukkan pandangannya. Ia tahu bahwa di tempat ini, tidak ada lagi orang yang bisa ia sebut sebagai teman.
Pintu baja bunker perlahan terbuka. Suara gesekannya terdengar seperti raungan mesin kuno dari masa lalu. Mereka melangkah memasuki koridor logam yang dingin, diterangi cahaya pucat yang memantul di dinding lembap. Setiap langkah kaki bergema tanpa akhir, seolah bahkan waktu sendiri sedang menahan napas.
Lift bawah tanah menunggu di ujung koridor. Levan menekan tombolnya.
Ting.
Pintu lift terbuka perlahan, lalu mereka masuk ke dalam.
Kaivan berdiri di sudut lift. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena tekanan tak kasatmata yang menindih dirinya. Levan bersandar santai pada dinding, satu tangan berada di dalam saku, sementara kaki kirinya menyilang di atas kaki yang lain. Namun di balik sikap santai itu, matanya menyimpan ketegangan yang tajam dan terkendali.
"Sebenarnya," kata Levan perlahan, suaranya bergema di ruang sempit itu, "tujuan utama kita datang ke sini adalah untuk memperkenalkanmu kepada pengguna Tome Omnicraft."
Kaivan menoleh cepat. Matanya membesar. "Omnicraft?" bisiknya. Ada ketakutan lama yang tersimpan dalam suaranya. Ketakutan terhadap para pemegang Tome lainnya, terhadap perang, dan terhadap kegilaan yang selalu mengikuti mereka. Tome bukanlah sekadar alat. Tome adalah kutukan.
"Jangan khawatir," jawab Levan pelan, suaranya rendah namun tajam. "Kali ini... sedikit berbeda."
Kaivan menundukkan pandangannya ke lantai logam yang memantulkan bayangannya secara samar. Tangannya gemetar ketika menggenggam erat tali tasnya. Dunia di sekitarnya terasa jauh. Sesaat, Isabel dan Felicia terlintas di benaknya, seolah sedang memandangnya dari kejauhan, seakan mereka sudah tahu bahwa ia tidak akan kembali.
Levan memberikan senyum kecil tanpa memberi jawaban langsung. Udara dingin bercampur aroma logam memenuhi ruangan ketika pintu lift terbuka kembali. Ia melangkah keluar lebih dulu dengan tubuh tegak dan penuh keyakinan, seperti seorang pemandu yang sedang menuntun seseorang menuju takdir yang tak bisa dihindari. Kaivan mengikutinya, matanya menyapu ruang luas yang menunggu di hadapan mereka.
Ruangan itu jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Kaivan. Sebuah aula raksasa yang tersembunyi jauh di bawah tanah. Dinding-dinding logam berkilau di bawah cahaya neon putih, memantulkan kilau dingin seperti cermin. Di tengah ruangan berdiri seorang anak laki-laki, sekitar tiga belas tahun, berambut pirang pendek dengan wajah yang ramah. Ia mengangkat tangan dan melambai santai, seolah sedang menyapa teman lama.
Kaivan berhenti di ambang lift dengan kebingungan. Siapa anak ini? Mengapa ia terlihat begitu santai? Tatapannya dipenuhi pertanyaan yang tak terucapkan.
Levan melangkah maju dengan nada formal. "Kaivan, ini Fabrizio. Dia telah menjadi pengguna Tome Omnicraft selama dua tahun terakhir."
Fabrizio mengangguk kecil sambil tetap tersenyum. Namun di balik kehangatan itu tersimpan kilatan kecerdasan yang tajam, seolah ia mampu membaca pikiran Kaivan hanya dengan sekali pandang.
Kaivan melirik Levan. "Jadi... apa yang dia inginkan dariku?" tanyanya pelan. Suaranya tenang, namun terselip kewaspadaan.
Udara bunker terasa berat, dipenuhi aroma logam tua yang mengendap selama bertahun-tahun. Dinding baja memantulkan setiap langkah kaki yang terdengar. Lampu-lampu redup di atas kepala menciptakan bayangan panjang di atas lantai abu-abu yang bersih namun menimbulkan rasa tidak nyaman. Kaivan menggenggam erat tas kulit yang berisi Tome Omnicent, satu-satunya hal yang masih ia percayai.
Levan menatap Fabrizio sesaat, lalu berjalan hingga berdiri di samping Kaivan dengan jarak yang terukur. Gerakannya lambat dan penuh perhitungan, seperti seorang maestro yang sedang bersiap memimpin simfoni tragis.
