Kaivan menatapnya sejenak. "Aku tidak tahu. Tapi kita harus bertahan hidup, kan?"
Livia masuk paling akhir, langkahnya tampak ragu-ragu. Tatapan Kaivan pun melembut. "Apa kamu baik-baik saja jauh dari orang tuamu, Livia?"
Livia tersenyum, meski kegelisahan masih tersisa di matanya. "Aku baik-baik saja, Kakak," jawabnya lembut. "Selama Kakak ada di sini, dan semua orang juga ada, aku bahagia. Lagi pula Felicia juga ada, kan? Jadi kita pasti aman."
Kaivan memandangnya dengan kasih sayang yang tenang. Meski mereka semua berbeda, takdir telah mempertemukan dan mengikat mereka bersama. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan saling melindungi.
Lampu neon yang redup berkedip samar di sepanjang langit-langit, memantulkan cahaya pucat pada dinding logam yang dingin. Udara begitu sunyi hingga hembusan napas sekecil apa pun terasa seperti gema di ruang kosong tanpa akhir. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah langkah kaki Kaivan, lambat dan berat, bergema seperti denyut jantung yang kelelahan.
Ia bangkit dari kursi logam yang dingin lalu memijat pelipisnya. Tatapannya kosong, namun badai besar berkecamuk di dalam dirinya. Luka-luka lama yang bahkan waktu tak mampu menghapusnya. Ia tahu Isabel akan datang, dan tidak ada satu pun hal yang bisa mempersiapkannya untuk menghadapi itu.
Pintu otomatis terbuka dengan desisan lembut. Isabel melangkah masuk. Gaun gelapnya bergoyang perlahan, sementara rambut merah pucatnya yang berantakan jatuh menutupi bahu seperti benang-benang kehidupan yang kusut. Mata itu bukan lagi mata Isabel yang pernah ia kenal. Mata itu adalah sisa dari lautan api yang telah membakar segalanya: penuh amarah, luka, dan kehancuran.
Kaivan melangkah maju. Isabel juga melakukan hal yang sama. Jarak di antara mereka menyusut begitu cepat, bagaikan dua asteroid yang ditarik oleh gravitasi yang sama. Dalam sekejap, plak!
Telapak tangan Isabel menghantam pipinya.
Suara tamparan itu menggema tajam di ruangan. Kepala Kaivan sedikit menoleh karena benturan, namun ia tidak melawan. Ia hanya berdiri diam. Seolah-olah ia sudah tahu... bahwa ini tak mungkin dihindari.
Di ruang observasi, Levan duduk santai sambil memegang semangkuk popcorn. "Uh... itu kelihatannya sakit," gumamnya sambil mengunyah, matanya tak lepas dari layar CCTV.
Isabel berdiri tepat di hadapan Kaivan. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya terputus-putus di bawah berat emosi yang menyesakkan. "Kau tetap melakukannya padaku... lalu kau meninggalkanku! Sebenarnya aku ini apa bagimu?!"
Suaranya pecah, rapuh seperti kaca yang retak di bawah tekanan.
Kaivan menarik napas perlahan. "Karena kau juga memaksakannya, bukan? Waktu itu... saat kau tidak mengenakan pakaian."
Kata-kata itu menghantam Isabel jauh lebih keras daripada tamparannya sendiri. Rahangnya menegang, kedua tangannya gemetar.
"Karena aku juga bisa membaca Tome of Omnicent, Kaivan! Aku tahu apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak menghentikanmu!"
Suaranya semakin serak, dipenuhi rasa sakit yang tak mampu ia sembunyikan.
"Aku memaksakan diriku padamu... berharap kau akan memilih tubuhku dan melupakan segalanya. Tapi kau tetap pergi! Dan kemudian... di buku harianmu, kau menulis bahwa kau sama sekali tidak merasakan kesenangan apa pun... Sebenarnya kau menganggapku apa?! Kau bahkan tidak tertarik padaku sejak awal, bukan?!"
Di ruang observasi, Levan hampir tersedak popcornnya.
"Whoa... dia juga bisa menggunakan Tome of Omnicent?" gumamnya sambil buru-buru mengetik sesuatu di terminal.
Kaivan mengangkat kepalanya. Matanya basah, namun tidak berkedip sedikit pun, terus menatap langsung ke mata Isabel. Suaranya terdengar pelan, namun menembus jauh ke dalam hati.
"Benar. Aku sudah tidak tertarik lagi... dan aku juga tidak memiliki keinginan untuk jatuh cinta lagi. Karena aku takut."
Levan menyipitkan matanya. "Catat itu. Kaivan tidak mampu merasakan cinta. Kemungkinan ini adalah efek dari Tome of Omnicent."
Kaivan menggerakkan tangannya perlahan, seolah sedang mencari kata-kata di udara. "Semua yang telah kulalui... membuat diriku kosong. Saat kau melepaskan semua pakaianmu dan menawarkan dirimu kepadaku... aku sempat berpikir untuk mencobanya. Mungkin... aku bisa melupakan semuanya."
Kedua kakinya kehilangan tenaga. Ia jatuh berlutut di hadapan Isabel. Tangannya mengepal ke arah ruang kosong, tubuhnya bergetar hebat. Air mata mengalir di pipinya.
"Setelah adikku jatuh koma... setelah ibuku meninggal... aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku ingin memulai sesuatu yang baru, tapi..."
Kalimatnya terputus, tenggelam oleh isak tangis. Wajahnya tertunduk dalam bayangannya sendiri, terlihat seperti anak kecil yang tersesat di dunia yang terlalu kejam.
Isabel membeku di tempat. Kepalan tangannya perlahan mengendur. Jari-jarinya gemetar sebelum akhirnya terulur dan menyentuh bahu Kaivan dengan lembut. Dalam satu sentuhan itu, seluruh amarahnya mencair, melebur bersama kesedihan yang selama ini ia pendam.
Ia tidak lagi melihat Kaivan sebagai pria yang telah menyakitinya. Di hadapannya kini berdiri jiwa yang hancur dan terbelah menjadi dua. Seorang manusia yang telah kehilangan segalanya, namun masih bertahan hidup di dalam kehampaan.
"Lalu apa maksudmu saat itu?" bisik Isabel. "Ketika kita bersama, kau bilang akan kembali menemuiku empat tahun kemudian."
Suaranya lembut, namun bagi Kaivan terdengar seperti jeritan yang menggema di dalam kepalanya. Isabel berjongkok di hadapannya, menatap wajah yang basah oleh air mata, lalu perlahan menghapusnya dengan ujung jarinya.
Kaivan menatap ke atas, matanya dipenuhi rasa bersalah. "Maafkan aku, Isabel. Aku masih tidak merasakan apa pun yang bisa disebut cinta. Hatiku sudah tidak lagi berdebar karena itu." Ia menelan kepahitan yang memenuhi tenggorokannya. "Tapi aku tahu apa yang kulakukan itu salah. Jadi... jika saat itu kau benar-benar mengandung, aku akan bertanggung jawab. Apa pun yang harus kulakukan."
Isabel menatapnya dalam diam. Amarah yang sebelumnya memenuhi matanya perlahan melunak, sementara air mata bergetar di sudut matanya. "Tidak, aku tidak mengandung. Aku sudah memeriksanya beberapa hari yang lalu," katanya dengan senyum tipis. "Tapi... aku senang karena kau bersedia bertanggung jawab."
Tanpa peringatan, Isabel maju dan mengecup Kaivan. Sentuhan itu tenang dan tulus, bukan lahir dari hasrat, melainkan dari kehangatan yang masih tersisa di antara mereka. Seolah-olah dunia di sekitar mereka perlahan memudar.
Saat kecupan itu berakhir, Kaivan memalingkan wajahnya, seakan takut pada cinta itu sendiri. Ia memaksa kata-kata itu keluar, berusaha berbohong kepada dirinya sendiri dan juga Isabel. "Maaf, Isabel. Aku... aku masih tidak merasakan apa pun. Sama sekali tidak." Suaranya serak, seperti seseorang yang telah terlalu lelah menjalani hidup.
Isabel mengangguk perlahan lalu berdiri. Ia mengulurkan tangannya kepada Kaivan yang masih duduk di lantai. "Tidak apa-apa, Kaivan. Aku tahu kau masih menyimpan trauma," katanya lembut sambil menarik napas panjang. "Dan satu hal lagi... mungkin ini akan menjadi rahasia kita. Aku tidak akan melupakannya. Karena saat itu... adalah pengalaman pertamaku."
Kaivan menatap tangan Isabel yang terulur ke arahnya. Perlahan, ia meraih tangan itu dan berdiri. Mereka saling memandang dalam diam, sebuah keheningan yang sarat akan makna.
Di ruang observasi, Levan memiringkan kepalanya dengan bingung. "Apa sebenarnya yang baru saja kita saksikan?" gumamnya, setengah tidak percaya.
Meski begitu, ia tahu bahwa apa pun yang baru saja terjadi telah menjadi awal dari babak baru dalam hubungan rumit antara Kaivan dan Isabel.
