Di tengah medan perang Ursa Major. Ledakan masih mengguncang berbagai sektor. Armada saling bertempur. Prajurit terus berjatuhan.
Jauh dari pusat pertempuran utama — dua sosok masih berdiri sebagai pusat perhatian. Tyrannons. Dan Thraxor.
Pertarungan mereka telah berlangsung cukup lama. Bahkan asteroid-asteroid di sekitar telah hancur akibat benturan pedang mereka. Puing-puing batu angkasa melayang di segala arah. Bekas gelombang energi memenuhi ruang hampa.
Dan di atas salah satu asteroid yang tersisa — Tyrannons terduduk diam. Napasnya berat. Keringat mengalir dari dahinya. Beberapa bagian armornya telah rusak. Tangannya masih menggenggam pedang. Namun jelas terlihat bahwa tubuhnya sudah mencapai batas.
Ia menundukkan kepala. Menatap pedang yang selama ini menemaninya. Bilah senjata itu dipenuhi bekas benturan. Sama seperti dirinya.
Tyrannons terdiam cukup lama. Mengingat kembali seluruh perjalanan yang membawanya sampai ke titik ini. Dari seorang pangeran. Menjadi pemberontak. Dari pewaris takhta. Menjadi musuh kekaisaran. Jalan yang dipilihnya tidak pernah mudah.
Dan sekarang — ia sedang menghadapi salah satu jenderal terkuat galaksi.
"Aku masih belum cukup kuat..." gumamnya pelan. Kalimat itu terasa pahit. Karena ia tahu itu benar. Awalnya ia mampu mengimbangi Thraxor. Bahkan beberapa kali berhasil memaksanya bertahan. Namun semakin lama pertarungan berlangsung — perbedaan kemampuan mulai terlihat. Pengalaman. Teknik. Dan kekuatan. Thraxor memiliki semuanya. Sedangkan dirinya... masih terus mengejar.
Di kejauhan. Thraxor berdiri dengan tenang. Jubah hitamnya berkibar perlahan. Matanya memperhatikan Tyrannons tanpa berbicara. Ia juga tidak menyerang. Seolah sedang menunggu sesuatu.
---
Tyrannons mengepalkan tangannya. Rasa frustrasi perlahan muncul. Sebagai pemimpin pemberontak. Sebagai simbol harapan bagi banyak orang. Ia seharusnya lebih kuat. Seharusnya mampu membawa kemenangan. Seharusnya mampu melindungi mereka yang mengikutinya.
Namun kenyataan tidak pernah sesederhana itu. Perang bukan soal harapan saja. Perang membutuhkan kekuatan. Dan saat ini — kekuatannya masih belum cukup.
Kemudian — sebuah suara muncul dalam benaknya. Lembut. Akrab. Dan sangat dikenalnya.
"Tyrannons!"
Ia perlahan mengangkat kepala. Pandangannya sedikit kabur akibat kelelahan. Di kejauhan — ia seolah melihat sosok seseorang. Rambut yang berkibar. Tatapan yang penuh kekhawatiran. Dan senyum yang selalu berusaha menyembunyikan rasa takut. Rea.
Tentu saja ia tahu itu hanya bayangan. Atau mungkin hanya ingatan. Entah kenapa — suara itu terasa nyata.
"Jangan menyerah."
Tyrannons memejamkan matanya. Kemudian tersenyum kecil. "Ya..." gumamnya. "Aku tahu."
Ia tidak mungkin menyerah sekarang. Tidak setelah semua yang telah terjadi. Tidak setelah begitu banyak orang mempercayainya. Dan tidak setelah mereka yang berada di belakangnya mempertaruhkan segalanya.
---
Perlahan. Tyrannons menancapkan pedangnya ke permukaan asteroid. Lalu menggunakan senjata itu untuk berdiri. Tubuhnya masih terasa berat. Lukanya masih terasa nyeri. Namun semangat dalam matanya kembali menyala. Lebih terang dari sebelumnya.
"Aku tidak cukup kuat," ucapnya. "Aku tahu itu." Ia menarik pedangnya. Kemudian mengangkatnya ke depan. "Tapi aku tidak akan mundur." Tatapannya mengarah langsung kepada Thraxor. "Aku lebih memilih gugur bertarung — daripada menyerah sebelum semuanya selesai." Napasnya stabil kembali.
Keheningan sesaat menyelimuti area tersebut.
Thraxor memperhatikan pemuda itu. Lama. Kemudian — senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sungguh keras kepala," ucap Thraxor.
Tyrannons tidak menjawab. Ia hanya memasang posisi bertarung. Siap melanjutkan pertarungan. Siap menerima apa pun hasilnya.
Thraxor mengangkat pedang raksasanya. Kali ini tatapannya berbeda. Ia teringat kembali pada bocah yang dulu berlari di koridor istana. Anak yang selalu membuat masalah kecil. Anak yang kini berdiri di hadapannya sebagai pemimpin pemberontak.
Waktu benar-benar telah berubah banyak hal.
"Kau tahu, Tyrannons," ucapnya. "Aku tidak menyangka."
Tyrannons mengernyit.
Thraxor melanjutkan. "Dulu aku menganggapmu hanya seorang anak yang keras kepala." Angin energi berhembus di antara mereka. "Tapi sekarang —" Matanya menyipit. Dan aura yang mengelilinginya perlahan meningkat. "— aku mulai mengerti kenapa begitu banyak orang memilih mengikutimu."
*BOOOOOOM!! *
Energi hitam kemerahan meledak dari tubuh Thraxor. Asteroid-asteroid di sekitar langsung retak. Puing-puing melayang menjauh. Tekanan luar biasa memenuhi ruang angkasa.
Kali ini — Tyrannons tidak mundur. Ia berdiri tegak menghadapi semuanya. Pedangnya terangkat. Semangatnya kembali menyala.
Thraxor memandangnya bukan sebagai anak seorang kaisar. Bukan sebagai pemberontak. Melainkan sebagai seorang pejuang sejati.
