Di sektor lain Ursa Major. Perang masih berkecamuk tanpa ampun. Ribuan kapal perang saling menembakkan meriam energi. Ledakan demi ledakan menerangi kehampaan kosmos.
Di tengah kekacauan itu — ada satu pertarungan yang menarik perhatian banyak pihak. Pertarungan antara seorang ksatria suci dan sang penakluk konstelasi. Pegasus Wings. Melawan. Hydra.
---
*CLAAAAANG!! *
Tombak perak Pegasus menebas dengan kecepatan luar biasa. Salah satu kepala Hydra terputus. Kepala itu berputar di angkasa sebelum hancur menjadi partikel energi. Beberapa detik kemudian — kepala baru tumbuh dari leher yang sama. Persis seperti sebelumnya.
Pegasus segera mundur. Sayap peraknya mengepak perlahan. Cahaya suci mengelilingi tubuhnya. Tatapan ksatria itu tetap tenang. Namun jauh di dalam pikirannya — ia mulai merasa kesulitan. Sudah berkali-kali ia memotong kepala Hydra. Sudah berkali-kali ia menghancurkannya. Namun hasilnya selalu sama. Tumbuh kembali. Seolah makhluk itu tidak mengenal kematian.
Di kejauhan. Hydra tertawa pelan. Suara beberapa kepalanya terdengar bersamaan. Membentuk gema yang aneh. "Hanya itu?" ejek salah satu kepala. "Aku mulai bosan."
Kepala lain ikut tertawa. "Ksatria suci Pegasus ternyata tidak sehebat cerita yang beredar."
Pegasus tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tombaknya lebih erat.
Hydra memperhatikan itu. Lalu senyumnya semakin lebar. "Kalau aku serius sejak awal — pertarungan ini sudah selesai."
Hydra mengangkat salah satu tangannya. Kemudian menunjuk ke kejauhan. Ke arah armada besar yang memenuhi sebagian ruang angkasa.
Pegasus menoleh. Dan yang ia lihat membuat ekspresinya sedikit berubah. Armada Hydra. Jumlahnya sangat besar. Ribuan kapal perang. Puluhan kapal induk. Dan yang lebih buruk — masih ada armada tambahan yang terus berdatangan melalui gerbang lompatan antarbintang. Satu. Dua. Lima. Sepuluh armada baru muncul. Seolah jumlah mereka tidak akan pernah habis.
Hydra tertawa bangga. "Lihat itu. Itulah kekuatan Konstelasi Hydra. Aku bukan hanya petarung. Aku penakluk."
Beberapa kepalanya berbicara bergantian. "Aku menghancurkan kerajaan. Aku menundukkan planet. Aku merebut konstelasi. Aku mengubah musuh menjadi bawahanku." Aura kesombongan memenuhi suaranya. Namun yang mengerikan — ia memang memiliki kekuatan untuk mendukung semua ucapan itu.
---
Pegasus memandang armada tersebut beberapa saat. Kemudian menoleh kembali. Tatapannya tetap tenang. Hal itu justru membuat Hydra sedikit kesal. Ia tidak melihat ketakutan. Tidak melihat keraguan. Tidak melihat keputusasaan. Pegasus masih berdiri tegak. Seolah jumlah musuh tidak berarti apa-apa.
Hydra menyipitkan mata. "Apa kau tidak takut padaku?"
Pegasus akhirnya berbicara. Suaranya tenang. Namun jelas terdengar oleh seluruh area sekitar.
"Takut?"
Hydra menyeringai. "Ya. Kau sedang menghadapi armada yang mampu menaklukkan konstelasi."
Pegasus menggeleng pelan. "Kau salah."
Hydra mengernyit.
Pegasus mengangkat tombak peraknya. Cahaya lembut mulai menyelimuti senjata itu. "Aku tidak bertarung demi menaklukkan siapa pun. Dan aku tidak bertarung demi kejayaan. Kau tidak akan mengerti."
Hydra mendengus. Salah satu kepalanya memutar mata. "Kalimat ksatria," ejeknya. "Selalu terdengar indah."
Pegasus tidak marah. Tidak tersinggung. Ia hanya menatap armada Hydra yang memenuhi ruang angkasa. Lalu mengingat rumahnya. Konstelasi Pegasus. Wilayah suci yang telah berdiri selama ribuan tahun. Tempat perlindungan para pengungsi. Tempat para penjaga galaksi dilatih. Tempat yang selalu membuka gerbang bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Konstelasi yang menjadi simbol keadilan. Simbol harapan. Dan simbol perlindungan.
Pegasus menutup matanya sejenak. Kemudian membukanya kembali. Tatapannya kini jauh lebih tajam.
"Aku bertarung agar tempat itu tetap ada," ucapnya. "Aku bertarung agar mereka yang tidak mampu melindungi diri mereka sendiri tetap memiliki harapan."
Cahaya perak mulai memancar dari sayapnya. Semakin terang. Semakin kuat.
Hydra memperhatikan perubahan itu. Lalu perlahan senyumnya memudar. Ia mulai merasakan sesuatu. Tekanan. Tekanan yang berbeda dari sebelumnya.
---
*WHOOSH! *
Pegasus melesat ke depan. Kecepatannya meningkat drastis.
Hydra langsung terkejut. "Dia lebih cepat?!"
Terlambat.
*CLAAAAANG!! *
Tombak perak menghantam salah satu kepala Hydra. Kemudian kepala kedua. Kepala ketiga. Keempat. Kelima. Dalam sekejap puluhan tebasan tercipta. Ledakan cahaya perak memenuhi ruang angkasa. Hydra terdorong mundur. Senyumnya menghilang sepenuhnya.
Pegasus melayang kembali. Sayapnya bersinar seperti bintang. Sementara tombak peraknya memancarkan energi suci yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Hydra mengusap bekas luka di salah satu lehernya. Luka itu belum sembuh. Belum tumbuh kembali. Dan hal itu membuat beberapa kepalanya terdiam.
Pegasus mengangkat tombaknya. Lalu menunjuk Hydra. "Kau benar tentang satu hal," katanya.
Hydra menatapnya.
Pegasus melanjutkan. "Pertarungan ini memang baru dimulai."
Keheningan menyelimuti area tersebut. Sementara di belakangnya — armada penakluk konstelasi terus berdatangan.
