Perang di Ursa Major masih berlangsung. Ledakan demi ledakan terus menghiasi kehampaan angkasa. Kapal perang hancur. Pesawat tempur berjatuhan. Dan ribuan prajurit dari kedua pihak terus bertarung tanpa tanda-tanda akan berhenti. Semakin lama perang berlangsung — semakin besar pula jumlah korban yang berjatuhan.
Di atas kapal komando pemberontak Tartanos — Tyrannons berdiri di depan layar taktis raksasa. Meski sedang bertarung di garis depan melalui transmisi tempur jarak jauh, ia tetap memperhatikan seluruh medan perang. Matanya mengamati setiap pergerakan armada. Setiap kehilangan. Dan setiap celah yang bisa dimanfaatkan musuh. Wajahnya perlahan menjadi semakin serius.
"Kita kehilangan terlalu banyak kapal," gumamnya. Beberapa perwira di sekitar langsung menoleh.
Tyrannons segera mengaktifkan saluran komunikasi utama. "Seluruh armada Tartanos. Ubah formasi. Masuk ke Formasi Pertahanan Delta."
Perintahnya bergema ke seluruh jaringan armada. Dalam hitungan detik. Ratusan kapal perang mulai bergerak. Barisan depan mundur. Kapal induk berpindah posisi. Sementara kapal-kapal pendukung membentuk lapisan perlindungan baru.
Formasi itu tidak dirancang untuk menyerang. Melainkan bertahan. Tyrannons memahami satu hal. Jika perang terus berlangsung seperti sekarang — maka tidak akan ada pemenang. Hanya akan ada lebih banyak korban.
---
Di ruang komando —
Rea memperhatikan semua itu melalui jendela observasi. Gadis berambut putih itu menggenggam pagar logam dengan erat. Matanya tidak pernah meninggalkan layar utama. Terutama sosok Tyrannons yang masih berada di medan perang.
"Ah…" Ia menggeram pelan. Rasa frustrasi memenuhi dadanya. Setiap kali melihat prajurit terluka. Setiap kali melihat kapal hancur. Perasaannya semakin buruk.
Namun yang paling membuatnya kesal — adalah kenyataan bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bukan komandan. Bukan pula petarung sekuat Tyrannons. Ia hanya bisa berdiri di sini. Melihat semuanya terjadi.
"Tyrannons…" bisiknya pelan. Andai saja ada cara untuk menghentikan perang ini. Andai saja semua bisa berakhir tanpa lebih banyak darah tertumpah. Namun kenyataan tidak pernah semudah itu.
---
Di luar sana —
Di tengah badai ledakan dan hujan energi. Dua sosok kembali bertabrakan.
*CLAAAAANG!! *
Percikan energi memenuhi ruang angkasa. Pedang Tyrannons dan pedang raksasa milik Thraxor saling menekan. Gelombang kejut menyebar ke segala arah. Mendorong kapal-kapal yang terlalu dekat.
Jubah hitam Thraxor berkibar perlahan. Aneh. Di ruang hampa tidak ada angin. Namun kain itu tetap bergerak seolah hidup. Matanya yang tajam terus mengawasi Tyrannons. Mencari celah. Mencari kesempatan. Tetapi setiap kali ia menyerang — Tyrannons berhasil membaca arahnya.
*WHOOSH! * Tyrannons menghindari satu tebasan. *CLANG! * Menangkis tebasan berikutnya. Dan sebelum Thraxor sempat melanjutkan — pedang Tyrannons sudah mengarah ke lehernya.
Thraxor segera mundur. Tatapannya sedikit menyempit. "Lumayan juga," gumamnya. Kemampuan Tyrannons berkembang jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan. Beberapa waktu lalu. Pemuda itu masih kesulitan menghadapi kecepatannya. Namun sekarang — ia mulai mampu membaca pola serangan miliknya. Bahkan beberapa kali berhasil memprediksi gerakannya.
Di kejauhan. Tyrannons mengangkat pedangnya. Tatapannya tidak pernah goyah. "Kau melambat," ucapnya.
Thraxor mendengus pelan. "Apa begitu?"
Tyrannons tidak menjawab. Ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak cocok dengan reputasi Thraxor. Karena pria itu adalah salah satu dari Tiga Belas Jenderal Utama Kekaisaran. Monster perang yang namanya ditakuti di berbagai galaksi. Seharusnya pertarungan ini jauh lebih sulit. Jauh lebih berbahaya. Namun entah kenapa — ada perasaan bahwa Thraxor sedang menahan sesuatu.
---
Di balik ekspresi dinginnya. Thraxor memang sedang menahan diri. Matanya sesaat menatap wajah Tyrannons. Dan sebuah kenangan lama muncul.
Seorang anak kecil. Berlarian di koridor istana kekaisaran. Tertawa tanpa beban. Sering membuat para penjaga kewalahan. Dan selalu dimarahi oleh para pejabat karena kenakalannya.
Anak itu adalah Tyrannons. Putra Kaisar Oreons Galactive. Pewaris takhta Kekaisaran Galaksi.
Dulu. Thraxor pernah beberapa kali melihatnya tumbuh di istana. Meski mereka tidak dekat. Meski hubungan mereka tidak istimewa. Tetapi tetap saja — Tyrannons adalah seseorang yang pernah ia kenal. Dan itulah masalahnya.
"Cih…" Thraxor menggerutu pelan. Kalau lawannya orang lain. Ia sudah menggunakan kekuatan penuhnya sejak tadi. Sudah mengakhiri pertarungan ini. Namun sekarang — setiap kali ia hendak melakukannya. Bayangan masa lalu itu selalu muncul. Membuat tangannya ragu.
Tyrannons memperhatikan perubahan ekspresi lawannya. "Kau sedang memikirkan sesuatu," ucapnya.
Thraxor tersenyum tipis. "Sekarang kau bahkan bisa membaca pikiranku?"
"Tidak juga," jawab Tyrannons. "Aku hanya bisa melihat keraguan."
Keheningan singkat muncul. Tatapan kedua pria itu bertemu tanpa serangan. Lalu Thraxor menghela napas panjang. "Keraguan…" ulangnya pelan. "Sudah lama sekali aku tidak mendengar kata itu."
Matanya perlahan berubah tajam. Jauh lebih tajam dari sebelumnya. Aura gelap mulai mengalir dari tubuhnya. Membuat ruang di sekitarnya bergetar. Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Kau benar, Tyrannons. Terlalu lama aku menahan diri."
Di kejauhan. Beberapa kapal perang langsung membunyikan alarm. Sensor mereka menangkap lonjakan energi yang luar biasa. Wajah Tyrannons menjadi serius. Ia merasakan tekanan yang benar-benar berbahaya.
Thraxor perlahan mengangkat pedang raksasanya. Aura hitam dan merah mulai membungkus seluruh tubuhnya.
Seluruh medan perang seolah menjadi sunyi. Salah satu dari Tiga Belas Jenderal Utama Kekaisaran — akhirnya mulai mempertimbangkan untuk bertarung dengan sungguh-sungguh.
