Api perang terus menyebar di seluruh Ursa Major. Sistem-sistem bintang yang dahulu tenang kini dipenuhi armada perang. Planet-planet mengalami kerusakan. Sabuk asteroid hancur akibat tembakan meriam energi. Dan langit kosmik yang biasanya dipenuhi cahaya bintang kini dipenuhi ledakan.
Di tengah kekacauan itu — sebuah cahaya merah melesat melintasi medan perang.
*WHOOSHH!! *
Beberapa kapal tempur kekaisaran bahkan tidak sempat bereaksi. Mereka hanya melihat kilatan merah. Lalu —
*BOOOOM!! *
Ledakan beruntun mengguncang area tersebut. Puluhan pesawat tempur langsung hancur. Beberapa kapal perang kecil terbelah menjadi dua. Dan para prajurit yang mencoba menghadangnya terpental ke berbagai arah.
Di pusat kehancuran itu berdiri seorang pemuda. Rambutnya berkibar pelan. Kristal merah menyala mengelilingi tubuhnya seperti pecahan bintang. Dialah — Arcas Ursa. Pemimpin Konstelasi Ursa Minor.
*WHOOM!! *
Arcas mengangkat tangannya. Puluhan kristal merah terbentuk di udara. Dalam sekejap kristal-kristal itu melesat. Membelah ruang angkasa.
*BOOM! BOOM! BOOM! *
Armada kekaisaran kembali kehilangan banyak kapal. Jeritan peringatan terdengar di berbagai saluran komunikasi. Para komandan mulai memerintahkan pasukan mereka untuk menjaga jarak. Namun itu tidak banyak membantu. Kecepatan Arcas terlalu tinggi. Dan kekuatan kristalnya terlalu mematikan.
Dalam hitungan menit — ratusan prajurit telah dikalahkan.
Namun wajah Arcas tidak menunjukkan kepuasan. Justru sebaliknya. Tatapannya dipenuhi kemarahan. Ia melihat ke sekeliling. Melihat kehancuran yang terus bertambah. Melihat sistem bintang yang rusak akibat perang. Dan itu membuat dadanya semakin sesak.
---
Ursa Minor adalah wilayah yang ia pimpin. Tempat yang ia lindungi. Namun Ursa Major berbeda. Tempat itu memiliki arti yang jauh lebih dalam. Karena Ursa Major adalah wilayah kekuasaan ibunya. Callisto. Salah satu penguasa paling dihormati di kawasan galaksi utara.
Sejak kecil — Arcas sering menghabiskan waktunya di sana. Ia pernah berlari di kota-kota orbitnya. Pernah melihat festival cahaya bintang yang terkenal di seluruh galaksi. Pernah menyaksikan nebula-nebula indah yang hanya bisa ditemukan di wilayah itu. Banyak kenangannya lahir di Ursa Major.
Dan sekarang — semuanya berubah menjadi medan perang.
"Cih..." Arcas menggertakkan giginya. "Aku muak melihat ini."
Sebuah kapal perang kekaisaran mencoba menyerangnya dari belakang. Meriam energinya menyala. Sebelum sempat menembak — Arcas menghilang.
*WHOOSH! *
Ia muncul tepat di depan kapal tersebut. Matanya bersinar merah. "Pergi dari wilayah ini."
*BOOOOOM!! *
Sebuah pukulan yang diperkuat kristal merah menghancurkan lapisan depan kapal. Ledakan besar kembali mengguncang angkasa.
---
Di kejauhan —
Beberapa komandan pemberontak memperhatikan pergerakannya. Mereka tahu siapa Arcas. Mereka tahu seberapa kuat dirinya. Namun mereka juga memahami kenyataan yang sama. Arcas tidak cukup kuat untuk mengubah seluruh medan perang seorang diri.
Terutama ketika musuh mereka bukan hanya armada kekaisaran. Di berbagai sektor — para Zodiac masih berada di medan perang. Taurus. Capricorn. Virgo. Dan beberapa keberadaan lain yang bahkan belum menunjukkan kekuatan mereka sepenuhnya. Makhluk-makhluk itu berada pada tingkatan berbeda. Tingkatan yang bahkan sulit dibayangkan oleh sebagian besar prajurit.
Arcas menyadari hal itu. Ia menatap ke arah cakrawala perang. Di kejauhan. Aura Taurus masih terasa seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan. Capricorn berdiri dengan tekanan energi yang tidak kalah mengerikan. Bahkan benturan aura mereka saja mampu mengguncang konstelasi.
Arcas mengepalkan tangannya. "Aku masih lemah," gumamnya. Kalimat itu keluar dengan pahit. Ia tidak suka mengakuinya. Namun itu kenyataan. Meski mampu mengalahkan ratusan prajurit. Meski mampu menghancurkan armada kecil seorang diri. Ia belum berada pada level para Sacred Zodiac. Belum mampu berdiri sejajar dengan mereka.
Kesadaran itu tidak membuatnya menyerah. Justru sebaliknya. Matanya semakin tajam. Kristal-kristal merah kembali bermunculan di sekeliling tubuhnya.
"Kalau aku belum cukup kuat untuk menghentikan mereka..." ucapnya pelan. "...setidaknya aku akan melindungi apa yang masih bisa kulindungi."
*WHOOM!! *
Ribuan kristal merah menyebar ke seluruh area. Para prajurit kekaisaran langsung terkejut. Karena setiap kristal itu mengunci target berbeda. Satu kapal. Satu skuadron. Satu batalion. Semuanya sekaligus.
Arcas mengangkat tangannya. Lalu menurunkannya. "Crimson Starfall."
Dalam sekejap — ribuan kristal merah melesat.
*BOOM! BOOM! BOOM! BOOOOM!! *
Langit Ursa Major dipenuhi ledakan merah yang menyala seperti hujan meteor. Puluhan kapal perang hancur. Ratusan prajurit terpukul mundur. Barisan depan kekaisaran langsung kacau. Sorak-sorai pasukan pemberontak menggema. Untuk sesaat — kemajuan pasukan kekaisaran berhasil dihentikan.
---
Arcas melayang di tengah hujan cahaya merah. Napasnya sedikit berat. Tatapannya tetap teguh.
Di bawahnya. Ursa Major masih terbakar. Perang masih berlangsung. Dan ancaman yang jauh lebih besar masih mengintai.
Selama ia masih mampu berdiri — Ia tidak akan membiarkan konstelasi yang penuh kenangan itu jatuh tanpa perlawanan.
