Hanggar utama Urco Tastarius perlahan kembali tenang. Armada emas milik Rangers telah meninggalkan istana. Cahaya mesin mereka menghilang satu per satu di antara lautan bintang.
Yllarxa berdiri memandangi arah kepergian armada itu. Dalam hatinya, ia berharap Rangers benar-benar mampu menghentikan perang di Ursa Major sebelum keadaan menjadi lebih buruk.
Saat ia hendak berbalik — sebuah suara memanggilnya.
"Yllarxa."
Yllarxa sedikit terkejut. Ia segera menoleh. Dan begitu melihat siapa yang berdiri di sana, ia langsung memahami mengapa suara itu terdengar begitu berat.
Seorang pria tinggi berjalan santai ke arahnya. Wajahnya dipenuhi beberapa bekas luka lama. Tatapannya tajam seperti binatang buas yang sedang mencari mangsa. Di punggungnya tergantung dua pedang panjang yang terkenal di seluruh kekaisaran.
Ia adalah — Maxtis Xorgat. Salah satu dari tiga belas jenderal utama Kekaisaran Galaksi.
---
Maxtis menghentikan langkahnya beberapa meter dari Yllarxa. "Ke mana Rangers pergi?" tanyanya tanpa basa-basi.
Yllarxa langsung terdiam. Ia mengenal Maxtis cukup baik. Di antara para jenderal kekaisaran — Maxtis terkenal sebagai seseorang yang sangat menyukai pertarungan. Bahkan beberapa prajurit diam-diam menyebutnya sebagai maniak perang. Bukan karena ia haus darah. Melainkan karena ia benar-benar menikmati pertarungan melawan lawan kuat.
Karena itu Yllarxa sedikit ragu menjawab. Jika Maxtis tahu Rangers pergi ke medan perang besar... bisa saja ia ikut menyusul. Dan itu justru akan memperkeruh keadaan.
Namun pada akhirnya — Yllarxa memilih berkata jujur. "Jenderal Rangers pergi ke Ursa Major."
Maxtis mengangkat alis. "Ursa Major?"
Yllarxa mengangguk. "Untuk menghentikan perang."
Hening beberapa detik.
Lalu — "Cih." Maxtis mendecih kesal. Tangannya langsung menggaruk rambutnya dengan frustrasi. "Tentu saja. Perang terbesar di galaksi saat ini — dan yang dikirim justru Rangers." Ia menghela napas panjang. Wajahnya tampak semakin kesal. "Aku di sini cuma mengawasi anak-anak latihan pedang setiap hari. Latihan. Latihan. Latihan. Sudah berapa bulan aku melakukan hal yang sama?"
Yllarxa hanya tersenyum kaku. Ia tidak berani menjawab. Sebenarnya banyak orang tahu Maxtis memang sedang tidak memiliki misi besar. Tugasnya belakangan hanya mengawasi akademi pedang kekaisaran dan melatih generasi baru ksatria. Pekerjaan penting. Namun jelas bukan pekerjaan yang disukai Maxtis.
"Aku bahkan belum menghunus pedangku untuk lawan yang layak dalam waktu lama," keluhnya.
---
Sekilas ia tampak ingin langsung menuju ruang rapat dan memprotes keputusan Oreons. Namun tiba-tiba ekspresinya berubah. Senyum licik muncul di wajahnya. Dan itu justru membuat Yllarxa khawatir.
"Kalau begitu…" kata Maxtis. "Aku punya cara yang lebih efisien."
Yllarxa langsung memahami maksudnya. Ia sudah mengenal Maxtis cukup lama. Dan pria itu memang sering mencari celah yang tidak melanggar aturan secara langsung.
Maxtis menunjuk dirinya sendiri. "Kalau nanti ada perang. Atau pertarungan besar. Atau monster yang mengamuk. Atau apa pun yang menarik." Ia menatap Yllarxa dengan serius. "Tolong rekomendasikan namaku kepada Oreons."
Yllarxa memejamkan mata sejenak. Jadi hanya itu. Bukan menyusul Rangers. Bukan membangkang perintah. Hanya meminta namanya disebut jika ada masalah besar berikutnya. Permintaan yang terdengar sederhana. Meski sebenarnya terasa seperti sebuah kecurangan. Semua orang tahu — jika Yllarxa yang mengusulkan sesuatu kepada Oreons, kemungkinan besar akan didengarkan.
Akhirnya Yllarxa mengangguk kecil. "Aku akan mempertimbangkannya."
Mata Maxtis langsung berbinar. "Bagus. Itu sudah cukup."
Ia lalu berbalik dan berjalan pergi dengan santai. Kedua pedangnya bergoyang pelan di punggungnya. Meski gagal pergi ke Ursa Major — setidaknya ia telah menyiapkan kesempatan untuk masa depan.
---
Yllarxa memperhatikan punggungnya hingga menghilang di ujung koridor. Kemudian ia menghela napas lega. Syukurlah. Maxtis tidak memutuskan menyusul Rangers. Jika dua jenderal utama muncul sekaligus di Ursa Major... situasi di sana mungkin akan semakin sulit dikendalikan.
Tak lama kemudian — seorang prajurit kekaisaran berlari menghampirinya.
"Nona Yllarxa."
Yllarxa menoleh. Prajurit itu membungkuk hormat. "Yang Mulia Oreons meminta Anda kembali ke ruang rapat."
Yllarxa mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berjalan menuju ruang rapat galaksi. Lorong-lorong istana kembali dipenuhi keheningan.
Namun jauh di luar sana — Ursa Major. Aquila. Dan Antares. Ketiga wilayah itu masih dilanda konflik besar.
Yllarxa memiliki firasat... bahwa galaksi belum melihat puncak dari kekacauan yang sedang terjadi.
