Ruang rapat galaksi kembali diliputi suasana berat. Laporan dari Ursa Major terus berdatangan. Jumlah korban meningkat. Armada terus bertambah. Dan wilayah konstelasi itu perlahan berubah menjadi lautan perang.
Di atas singgasananya, Oreons memejamkan mata sejenak. Pikirannya bekerja cepat. Mencari cara paling efektif untuk mengakhiri konflik yang semakin membesar. Lalu ia membuka matanya.
"Aku memiliki cara yang lebih cepat." Suara Oreons membuat seluruh ruangan memperhatikannya. "Jika para pemimpin konstelasi yang berpihak pada kekaisaran bergerak bersamaan..." Tatapannya mengarah pada beberapa penguasa yang hadir. "...dan mengepung Ursa Major dari segala arah, pemberontak akan kehilangan pilihan. Menyerah atau dihancurkan."
Beberapa pemimpin konstelasi tampak mempertimbangkan usulan itu. Secara militer, rencana tersebut memang masuk akal. Tekanan dari berbagai arah bisa memaksa Tyrannons dan sekutunya menghentikan perlawanan.
Sebelum ada yang berbicara — Yllarxa yang berdiri di samping singgasana perlahan menundukkan kepala.
"Yang Mulia..."
Oreons melirik ke arahnya.
Yllarxa menggenggam kedua tangannya. Lalu berbicara dengan hati-hati. "Saya mohon jangan lakukan itu."
Ruangan mendadak sunyi. Tidak banyak orang yang berani menyela keputusan Oreons secara langsung. Namun Yllarxa melakukannya.
Oreons tidak marah. Ia hanya menunggu penjelasannya.
Yllarxa menarik napas pelan. "Jika lebih banyak armada dikirim ke Ursa Major — maka pihak pemberontak juga bisa memanggil lebih banyak sekutu." Ia menatap lantai. "Mereka tidak sendirian lagi. Ada Pegasus. Ada Ursa. Dan kemungkinan besar masih banyak pihak lain yang diam-diam mendukung mereka."
Yllarxa melanjutkan dengan suara tenang. "Jika kedua pihak terus menambah pasukan — perang hanya akan semakin besar. Bukan berakhir."
Beberapa orang di ruangan mulai mengangguk pelan. Mereka tahu perkataan itu masuk akal.
Oreons sendiri tampak ingin membantah. Matanya sedikit menyipit. Sebagai penguasa galaksi, ia terbiasa mengambil keputusan yang tegas dan cepat. Namun saat melihat Yllarxa yang masih menundukkan kepala — ia akhirnya menghela napas panjang.
"Haa..."
Beberapa orang langsung terkejut. Jarang sekali ada orang yang mampu mengubah keputusan Oreons. Terlebih dalam situasi penting seperti ini.
Oreons menyandarkan tubuhnya ke singgasana. "Baiklah. Aku tidak akan mengirim armada tambahan dalam jumlah besar."
Yllarxa perlahan mengangkat kepalanya. Ada kelegaan yang jelas terlihat di matanya. "Terima kasih, Yang Mulia."
Oreons hanya menggeleng kecil. Sulit baginya bersikap keras kepada pelayan yang telah berada di sisinya selama bertahun-tahun itu.
---
Meski membatalkan rencana pertama — ia tetap harus melakukan sesuatu. Tatapannya kembali berubah serius. "Kalau begitu — aku akan memanggil satu jenderal lagi."
Suasana rapat kembali menegang. Beberapa pemimpin konstelasi saling berpandangan. Mereka tahu apa arti keputusan itu. Satu jenderal utama kekaisaran sering kali lebih berbahaya daripada ribuan armada biasa.
Oreons mulai berpikir. Memilih siapa yang paling cocok dikirim.
Namun sebelum sempat menyebut nama — suara seseorang terdengar.
"Kalau begitu, izinkan aku pergi."
Semua orang menoleh. Rangers. Jenderal terkuat kekaisaran yang sejak awal berdiri di dekat pintu.
Ia melangkah maju beberapa langkah. Wajahnya tampak tenang seperti biasa. "Aku ingin bertemu Tyrannons." Matanya sedikit menyipit. "Sudah lama aku tidak melihat muridku itu."
Suasana ruangan langsung berubah. Lord Rylos bahkan mengangkat alis. Leo menoleh penuh tanda tanya. Dan beberapa pemimpin lain terlihat terkejut. Jika Rangers sendiri yang turun tangan — situasinya akan berubah drastis.
Oreons memandangnya selama beberapa detik. Lalu mengangguk. "Baik. Kalau itu keinginanmu. Ursa Major akan menjadi tanggung jawabmu."
Rangers tersenyum tipis. "Serahkan padaku."
---
Tidak lama kemudian — Rangers meninggalkan ruang rapat. Langkahnya bergema di koridor istana Urco Tastarius. Para prajurit yang melihatnya langsung memberi hormat. Karena mereka tahu. Jenderal terkuat kekaisaran akhirnya bergerak.
Di hanggar utama — armada emas miliknya telah menunggu. Kapal-kapal perang berlapis emas berjajar rapi. Masing-masing memancarkan aura yang membuat armada biasa tampak kecil.
Sebelum menaiki kapal utama — Rangers berhenti sejenak. Lalu menoleh kepada Yllarxa yang mengantarnya sampai hanggar.
"Jaga istana."
Yllarxa mengangguk.
Rangers melanjutkan. "Xerga. Kan'al. Carrien. Dan robot 9562. Mereka mungkin masih berada di sekitar sistem istana." Tatapannya menjadi sedikit lebih tajam. "Aku tidak ingin mereka merusak sesuatu saat aku pergi."
"Aku mengerti," jawab Yllarxa.
Rangers tersenyum kecil. Kemudian berbalik menuju kapal utamanya. Pintu kapal terbuka perlahan. Dan saat ia melangkah masuk — seluruh armada emas mulai aktif. Mesin raksasa menyala. Cahaya emas memenuhi hanggar.
---
Tujuan mereka hanya satu. Ursa Major. Tempat perang besar sedang berlangsung.
Dia sendiri yang akan turun tangan secara langsung. Bukan sebagai pengamat. Bukan sebagai penjaga istana. Melainkan sebagai jenderal utama kekaisaran. Seseorang yang berniat menghentikan perang — sebelum api konflik itu menyebar ke seluruh galaksi.
