Cherreads

Chapter 664 - Harapan di Tengah Ketidakberdayaan

Sementara perang besar terus berkecamuk di luar angkasa Ursa Major — suasana di dalam istana Ursa Major sama sekali tidak lebih tenang. Ruang pertemuan utama yang biasanya dipenuhi diskusi dan strategi kini dipenuhi kegelisahan. Para petinggi konstelasi Ursa duduk di kursi masing-masing. Beberapa terus memantau laporan dari armada. Yang lain berusaha menghitung kerusakan yang mulai terjadi di berbagai wilayah. Semakin banyak laporan yang datang — semakin muram pula suasana ruangan.

Di kursi utama, Callisto Ursa tampak menggenggam sandaran kursinya. Ratu Ursa Major itu berusaha mempertahankan ketenangannya. Pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Ursa Major adalah rumahnya. Konstelasi yang telah ia jaga selama bertahun-tahun. Dan kini tempat itu berubah menjadi medan perang raksasa. Setiap menit yang berlalu membawa risiko kehancuran yang lebih besar.

Belum lagi — Arcas. Putranya saat ini berada di garis depan. Menghadapi lawan-lawan yang bahkan membuat para penguasa konstelasi lain merasa takut. Callisto menghela napas pelan. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Arcas cukup kuat. Sebagai seorang ibu — rasa khawatir tetap tidak bisa dihilangkan.

---

Di seberang meja panjang — Aryes duduk dalam diam. Tatapannya tertuju pada peta taktis yang menampilkan wilayah konflik. Namun ia tidak berkata apa-apa. Karena ia tahu kenyataannya. Aryes tidak memiliki armada raksasa. Tidak memiliki pasukan yang dapat mengubah jalannya perang. Ia hanyalah seorang pemimpin yang mencoba melindungi orang-orangnya. Ia merasa sangat terbatas.

Di sudut ruangan — Lira, Violys, dan Jester juga tampak murung. Biasanya Jester selalu punya sesuatu untuk dikatakan. Sebuah candaan. Atau komentar yang membuat suasana sedikit lebih ringan. Kali ini bahkan dirinya hanya memainkan kartu Arcana miliknya tanpa semangat. Lira memandangi layar laporan yang terus berubah. Sedangkan Violys hanya diam.

Mereka semua memikirkan orang-orang yang berada di medan perang. Zero. Napstylea. Rea. Arcas. Dan banyak lainnya. Mereka berharap semuanya bisa bertahan. Namun mereka tahu — harapan saja tidak cukup untuk menghentikan perang.

---

Tiba-tiba — salah satu petinggi Ursa berdiri dari kursinya. Wajahnya tampak pucat. Ia baru saja menerima laporan terbaru.

"Yang Mulia…"

Callisto langsung menoleh. "Apa yang kau ingin sampaikan?"

Petinggi itu menelan ludah. Lalu menjawab dengan suara berat. "Menurut laporan armada — di medan perang saat ini telah muncul tiga Sacred Zodiac."

Ruangan langsung terdiam. Bahkan suara perangkat komunikasi terasa jauh. Callisto membelalakkan mata. "Tiga?"

Petinggi itu mengangguk. "Virgo. Taurus. Dan yang baru saja tiba… Capricorn."

Suasana menjadi semakin suram. Semua orang di ruangan memahami arti kabar itu. Satu Sacred Zodiac saja sudah cukup untuk mengubah nasib sebuah konstelasi. Mereka adalah makhluk yang kekuatannya berada di tingkat yang sangat tinggi. Dan sekarang — ada tiga sekaligus berada di wilayah Ursa Major.

Lira terlihat semakin cemas. Violys menundukkan kepala. Jester berhenti memainkan kartunya.

---

Callisto menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak bisa pergi ke medan perang. Tidak bisa memerintahkan para Zodiac. Tidak bisa menghentikan konflik yang terus membesar. Yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga istana dan menunggu kabar berikutnya.

"Ursa Major…" gumamnya pelan. Tak pernah terbayangkan bahwa konstelasinya akan menjadi pusat perang sebesar ini. Ia memejamkan mata sesaat. Lalu kembali menatap layar laporan yang terus menunjukkan kehancuran yang meluas.

Di tengah ketidakberdayaan itu — Callisto hanya memiliki satu harapan. Bahwa suatu keajaiban akan muncul. Sebelum perang ini menghancurkan terlalu banyak hal yang tidak bisa dikembalikan lagi.

More Chapters