Membalikkan telapak tangannya, buku pemberian Ares langsung muncul dalam sekejap mata.
Sepuluh buku lain yang telah disaring mengapung secara bersamaan, kemudian halaman pertama buku peninggalan Poseidon terbuka.
Devine Power yang telah terkonsentrasi mulai memindai setiap halaman dengan presisi sempurna.
Di sisi lain, komputer generasi kedua muncul di atas meja dan secara otomatis menyalin terjemahan lewat notepad.
Semua pekerjaan melelahkan ini dilakukan secara multitasking dan otomatis. Meskipun semua berjalan dengan cukup lancar, tapi Yves menyadari bahwa setiap kata memiliki dua atau tiga arti, yang mana membuatnya sedikit bingung.
"Ares sialan itu pasti tertawa sekarang. Apakah buku ini benar-benar buku yang berisi rahasia tertentu?" Meskipun ada rasa penyesalan, tapi Yves tetap melanjutkan penerjemahan ini.
Ketika Yves fokus, di sisi lain, Sindella telah bangung dan berdandan.
Mengenakan pakain ketat klasik dengan jubah di punggungnya, sosok Sindella terlihat semakin cantik dan juga glamor.
Datang ke belakang suami kecilnya, Sindella dengan penasaran melihat apa yang sedang dilakukan pria kecil ini.
Dengan ekspresi lelah, Yves menutup buku tersebut. Berkat pencahayaan yang baik di perpustakaan, stamina Yves pulih lebih cepat berkat sinar matahari yang masuk.
"Hmm? Sayang, mengapa kamu di sini? Juga, dandananmu membuatmu terlihat semakin cantik."
Mendengar pujian kekasihnya, Sindella tertawa kecil, "Hehe, kamu sangat ahli berbicara manis."
"Hari ini adalah hari pertemuan Master sihir, tentu saja aku harus berpakaian lebih formal."
"Ngomong-ngomong, dari mana kamu mendapat buku berbahasa Yunani kuno ini?" Sindella mengambil buku itu lalu membolak-baliknya dengan penasaran.
"Sir Patrick-lah yang memberikannya padaku di perjamuan kemarin, pria itu tidak sesederhana kelihatannya." Jawab Yves.
"Hehe, dia memang tidak sesederhana itu, dia adalah Dewa Perang yang telah menyamar." Sindella berkata dengan main-main.
"Huh? Sayang, kamu sudah tahu hal ini?!" Yves hampir saja menggigit lidahnya dengan tidak sengaja. Sebenarnya berapa banyak rahasia yang dimiliki istrinya ini?
"Tentu saja aku tahu, hanya saja sangat sedikit orang yang mengetahui identitas aslinya. Nah, jangan sampai tertipu olehnya, Dewa Olympus tidak dapat dipercaya." Kata Sindella sambil mengungkapkan rasa ketidaksenangannya.
Sebagai keturunan Dewa Laut Poseidon, Sindella tahu banyak hal yang tidak diketahui orang biasa.
Sindella yang saat ini dalam suasana hati yang baik menyandarkan tubuhnya di lengan kekasih kecil-nya. Dengan lembut, dia mulai membolak balik halaman buku dengan jari jemarinya yang lihai.
"Buku ini memang peninggalan Poseidon, tapi isinya tentang pengendalian laut, lebih seperti otobiografi yang dia tulis dengan santai." Kata Sindella sambil membaca buku tersebut.
Menjentikkan jarinya, sebuah pena tiba-tiba muncul dari udara kosong, kemudian pena itu menulis di atas kertas kosong secara otomatis.
Tak lama kemudian, buku itu berhasil diterjemahkan. Sindella menyerahkan buku itu kepada Yves sambil tersenyum kecil, "Buku ini boleh kamu baca, tapi tidak ada sihir yang disebutkan di dalamnya."
"Kemarilah, kita akan segera berangkat."
Merasa kecewa, Yves mengungkapkan kekecewaannya, "Sudah kuduga, bajingan tua itu pasti telah mengetahui hal ini! Sungguh merugi!"
Mengedipkan matanya dengan polos, Sindella berkata, "Nampaknya Ares memiliki putri bernama Katharina, gadis kecil itu cukup cakap, jika bisa, coba dapatkan dia. Meskipun karakternya sedikit kasar, tapi dia dapat membantumu."
Mendengar hal ini, Yves terkejut, "Um, mengapa kamu memintaku untuk menjemput wanita lain?"
"Hehe, ini karena aku tidak lagi tahan denganmu, dasar bajingan kecil! Serius, aku tidak akan keberatan jika kamu merekrut beberapa wanita cakap untuk membantumu, tapi jangan mencari wanita pencemburu, aku tidak ingin melihat perkelahian keluarga."
"Nah, Yves, perlu kamu ingat, selama kamu kuat, kamu dapat memiliki apa-pun yang kamu inginkan."
Apakah Sindella tulus dengan kata-katanya atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.
Setelah melakukan pemanasan sedikit selama satu jam, Yves dan Sindella yang telah merapikan pakaian mereka berteleportasi ke kaki pegunungan Himalaya.
Mencari tempat sepi, mengeluarkan sapu terbang sambil menerapkan sihir tembus pandang, keduanya terbang menuju ke atas gunung secara bersamaan.
Jubah serta rambut pirangnya yang tertiup angin membuat Sindella semakin mempesona. Penyihir ini memang sangat luar biasa cantik, Yves yang melihat dari belakang hanya dapat menelan ludahnya. Goblin cantik ini benar-benar menggoda!
Keduanya terbang ke puncak gunung tanpa takut udara dingin. Sindella telah melapisi pakaiannya dengan sihir penghangat, sedangkan Yves secara fisik tidak terpengaruh oleh udara dingin.
Sepanjang jalan, mereka menemui banyak ahli sihir lain yang juga dalam perjalanan. Mengapa mereka semua terbang dan tidak berteleportasi langsung ke Kamar-Taj? Sederhana saja, karena hal itu dilarang, kecuali murid Kamar-Taj, tentu saja.
Ada yang terbang tanpa bantuan sapu terbang, ada yang terbang menggunakan permadani, bahkan ada yang bertransportasi menggunakan gerbong terbang!
Accesss 230 extra chapters here: patréon.com/mizuki77
